Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Bertahun-Tahun Rusak Berat, Sekolah Dasar di Pangandaran Belum Diperbaiki

Rabu 08 Jun 2022 13:43 WIB

Rep: bayu adji p/ Red: Hiru Muhammad

 Kondisi ruangan yang rusak di SDN 2 Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Rabu (8/7/2022). Sebanyak dua ruangan di sekolah itu mengalami kerusakan. Satu rusak berat dan satu rusak ringan.

Kondisi ruangan yang rusak di SDN 2 Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Rabu (8/7/2022). Sebanyak dua ruangan di sekolah itu mengalami kerusakan. Satu rusak berat dan satu rusak ringan.

Foto: bayu adji p
Saat ini hanya terdapat empat ruang kelas yang digunakan efektif untuk KBM.

REPUBLIKA.CO.ID,PANGANDARAN--Sebanyak dua ruangan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, mengalami kerusakan. Satu ruangan merupakan ruang guru dan satunya adalah ruang kelas 1.

Kepala SDN 2 Karangpawitan, Hendrik Sumantri, mengatakan, dua ruangan itu telah mengalami kerusakan selama bertahun-tahun. Bahkan, sejak 2019, ruang guru yang sudah rusak berat itu tak lagi digunakan untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan. Pihak sekolah terpaksa harus memindahkan tempat kerja guru ke ruang kelas 6.

Baca Juga

Sementara satu ruang kelas yang mengalami kerusakan sedang tetap digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar (KBM) kelas 1 dan kelas 2. Sebab, jumlah ruang kelas di sekolah itu memang masih kurang. "Di sekolah ini hanya ada lima ruang kelas. Satu dipakai untuk ruang guru," kata Hendrik saat ditemui Republika, Rabu (8/7/2022).

Ia menyebutkan, saat ini hanya terdapat empat ruang kelas yang digunakan efektif untuk KBM. Padahal, di sekolah itu terdapat enam rombongan belajar (rombel).

Untuk menyiasati agar seluruh siswa dapat tetap belajar secara efektif, pihak sekolah menggunakan ruangan panggung untuk tempat KBM siswa kelas 5, yang jumlah rombelnya lebih sedikit dibandingkan kelas lainnya."Jadi ada satu ruangan yang biasa digunakan untuk panggung, dijadikan kelas. Kebetulan rombel yang menempati ruang itu jumlah siswanya sedikit. Hanya 10 orang," ujar Hendrik.

Sementara itu, siswa kelas 1 dan kelas 2 harus bergantian mengisi satu ruang kelas dengan sistem shift. Saat pagi hari, giliran siswa kelas 1 yang belajar di satu ruangan itu. Setelahnya, baru siswa kelas dua yang belajar di tempat yang sama.

Hendrik mengatakan, kondisi kerusakan dua ruangan di sekolahnya itu telah terjadi selama bertahun-tahun. Beberapa tahun yang lalu, sempat ada program rehabilitasi ruang kelas yang rusak. Namun, sekolahnya hanya mendapat jatah perbaikan empat ruangan. Alhasil, dua ruangan yang rusak itu tak direhabilitasi.

Makin lama, kerusakan makin parah. Atap ruang guru, misalnya, disebut sudah makin lapuk. Pihak sekolah pun tak mau ambil risiko."Karena kayunya sudah tidak kuat karena merupakan bangunan lama. Mangkanya dikosongkan untuk antisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Genting juga diturunkan," kata Hendrik.

Berdasarkan pantauan Republika, sebagian kayu penyangga atap ruang guru sudah mulai berjatuhan. Sementara pada bagian samping, tembok bangunan ditopang dengan beberapa kayu agar tetap berdiri.

Menurut Hendrik, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait agar dua ruangan yang rusak itu dapat segera diperbaiki. Ia menambahkan, dinas terkait juga telah melakukan verifikasi dua ruangan yang rusak sejak awal tahun. Penghitungan juga sudah dilakukan. Rencananya, perbaikan akan dilakukan pada tahun ini. "Namun belum tahu waktu pastinya. Kami hanya bisa menunggu. Harapan mah secepatnya, agar proses KBM lancar. Apalagi mau menghadapi tahun ajaran baru," kata dia.

Guru kelas 1 SDN 2 Karangpawitan, Eva Novillah, mengaku sering khawatir ketika melakukan proses KBM di ruangan yang mengalami rusak sedang itu. Ia takut ketika siswa sedang belajar, atap ruangan toboh dengan tiba-tiba. Sebab, kondisi atap ruang kelas itu sudah terlihat miring.

"Apalagi saat hujan juga bocor di tengah anak belajar. Jadi ganggu. Karena kalau hujan, posisi siswa belajarnya harus dipindah biar tidak basah," kata dia.

Menurut Eva, pihak sekolah sudah sering melakukan perbaikan terkait atap yang bocor itu. Namun, ketika hujan besar, air tetap masih meneter ke tengah-tengah siswa belajar. Ia berharap, ruang kelas yang rusak dapat segera diperbaiki. Dengan begitu, siswa dapat belajar dengan nyaman."Apalagi sekarang mau penerimaan siswa baru. Kami juga mau dilihat bagus oleh orang tua siswa," ujar dia.

Hendrik mengatakan, apabila rehabilitasi dua ruangan yang rusak itu sudah dilakukan, ruang kelas di sekolahnya tetap akan kurang. Sebab, sejak awal jumlah ruang kelas di sekolah yang saat ini numlah siswanya terdapat 103 orang itu hanya ada lima unit."Memang di sini ruang kelasnya hanya ada lima. Jadi kalaupun nanti direhab, jumlah ruang kelas di sini masih kurang," kata dia.

Menurut dia, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan dinas agar ruang kelas di sekolahnya bisa ditambah. Namun, ia tak mau banyak berharap ruang kelas akan ditambah."Kami berharap, tapi tidak banyak. Kami pernah mengajukan ruang kelas ke dinas, tapi lahan sekolah ini sudah tidak ada. Tidak mungkin ada penambahan ruangan, kecuali dijadikan dua lantai," kata dia.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA