Selasa 07 Jun 2022 15:23 WIB

Harga Telur Hingga Bawang Merah Naik, Disdagin Kota Bandung: Cuaca tak Menentu

Kenaikan harga juga karena permintaan meningkat hingga memicu kelangkaan stok

Rep: dea alvi soraya/ Red: Hiru Muhammad
Pedagang mengusir lalat dari telur dagangannya di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/6/2022). Memasuki awal Juni 2022 harga telur di Kota Bandung melonjak menjadi Rp30 ribu per kilogram yang disebabkan harga pakan yang mahal di kalangan peternak.
Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi
Pedagang mengusir lalat dari telur dagangannya di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/6/2022). Memasuki awal Juni 2022 harga telur di Kota Bandung melonjak menjadi Rp30 ribu per kilogram yang disebabkan harga pakan yang mahal di kalangan peternak.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG—Harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di Kota Bandung merangkak naik dalam satu pekan terakhir. Tertinggi, untuk telur ayam yang memiliki harga eceran tertinggi (HET) Rp 24.000 per kilogram kini menyentuh angka Rp 30.000 per kilogram. Selain harga telur, berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung kenaikan harga terjadi pada beberapa komoditas kebutuhan pokok lainnya. Seperti, harga daging ayam yang mencapai Rp36-38 ribu per kilogram selisih Rp3.000 dari HET. 

Kenaikan harga bawang merah pun cukup tinggi, dari harga acuan Rp 32.000 per kilogram, dipasaran kini menyentuh angka Rp 40-50 ribu per kilogram. Cabai tanjung juga berada di angka Rp 50-80 ribu per kilogram. Adapun untuk gula pasir menyentuh angka Rp14-16 ribu per kilogram dari harga acuan Rp13.500. Selain itu, minyak goreng curah harganya dari HET Rp 15.500 per kilogram, di pasaran menembus angka Rp 18.000 per kilogram. Juga beberapa harga sayuran yang ikut naik. 

Baca Juga

Terkait kenaikan harga, Kepala Disdagin Kota Bandung Elly Wasliah menyebut kenaikkan harga beberapa bahan pokok terutama untuk sayuran dan bumbu dapur seperti cabai dan bawang diakibatkan oleh faktor cuaca yang tidak menentu. 

"Kalau bawang, cabai itu kan dipengaruhi ke faktor cuaca yang sekarang tidak menentu. Beberapa sayuran juga begitu, sangat berpengaruh dengan kondisi cuaca termasuk telur dan daging ayam, jadi kenaikan ini semata-mata karena faktor cuaca," ujar Elly saat ditemui Republika, Selasa, 7 Juni 2022.

Elly memastikan kenaikan harga kepokmas bukan karena permintaan yang meningkat dan menyebabkan kelangkaan stok. Selain itu, pihaknya memastikan untuk ketersediaan bahan pangan di Kota Bandung dalam kondisi aman menjelang hari raya Idul Adha.

"Seperti telur, kalau musim hujan memang pasti ada penurunan produktivitas, jadi memang pasokannya tidak sebanyak di musim kemarau, begitu juga cabai dan bawang, karena lebih cepat busuk sehingga pedagang juga enggan memasok terlalu banyak," jelasnya.  

"Untuk stok dalam kondisi aman tersedia, semuanya. Jadi tidak perlu khawatir, cuma ada kenaikan harga aja, tapi pasokan aman," imbuhnya. 

Meski begitu, Elly berharap untuk kenaikan harga menjelang Idul Adha tidak kembali terjadi."Kalaupun nanti ada lonjakan harga menjelang Idul Adha, kita prediksi tidak akan setinggi saat Idul Fitri, karena permintaannya pun tidak setinggi saat Idul Fitri," jelasnya. 

Sementara itu, Komarudin, salah seorang pedagang telur di Pasar Gedebage mengatakan, harga telur di pasaran saat ini mencapai Rp 29.000 per kilogram. Situasi tersebut telah terjadi sejak dua pekan terakhir. 

"Setelah Lebaran itu Rp 26 ribu. Sekarang naik menjadi Rp 29 ribu untuk satu kilogramnya. Kenaikan ini lebih cepat. Biasanya kenaikan telur itu, mendekati Idul Adha," kata Komarudin, Selasa, 7 Juni 2022.

Menurut Komarudin, kondisi seperti ini membuat pedagang telur di Pasar Gedebage, Kota Bandung mengalami penurunan omzet antara 20 hingga 30 persen karena sepinya pembeli. 

"Omzet kita berkurang. Penurunan omzetnya 20 sampai 30 persen. Juga soal pengurangan kualitas. Pelanggan jelas komplain. Yang biasa membeli dua kilo, sekarang menjadi satu kilo saja," ucapnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement