Ahad 05 Jun 2022 21:26 WIB

Gunung Kidul Manfaatkan Sisa Obat Antraks Obati Ternak Positif PMK

Hingga kini tercatat 148 kasus aktif PMK di Gunung Kidul.

Hingga kini tercatat 148 kasus aktif PMK di Gunung Kidul.
Foto: ANTARA/Fauzan
Hingga kini tercatat 148 kasus aktif PMK di Gunung Kidul.

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL -- Dinas Peternakan dan Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memanfaatkan sisa obat antraks untuk mengobati hewan ternak yang positif dan suspek penyakit mulut dan kuku (PMK). Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunung Kidul sampai dengan saat ini tercatat ada 148 kasus aktif penyakit mulut dan kuku (PMK) di Gunung Kidul menyebar di sejumlah wilayah kapanewon/kecamatan.

"Di Gresik, Jawa Timur pembelian obat penyakit mulut dan kuku (PMK) dilakukan dengan cara patungan. Kami lebih memilih memanfaatkan sisa obat antraks. Kami gunakan sisa desinfektan, obat-obatan, vitamin layak pakai. Semua masih spesifik," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Gunung Kidul Retno Widiastuti di Gunung Kidul, Ahad (5/6/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan, stok di gudang obat sampai dengan sekarang masih aman. Pengobatan hewan ternak terjangkit PMK berlangsung sekitar tiga minggu. Setiap tiga hari sekali diberi obat dan vitamin.

"Stok obat-obatan masih aman. Pengobatan melalui dokter hewan gratis," katanya.

Retno juga mengatakan, kebijakan penutupan sementara pasar hewan sangat tepat untuk mengurangi laju penyebaran PMK. Berdasarkan hasil laporan petugas, sebagian besar sumber penularan PMK berasal dari pasar hewan. 

"Semoga dengan ditutupnya pasar hewan yang bersifat sementara itu dapat menekan penyebaran PMK," katanya.

Di sisi lain, lanjut Retno, DPKH Gunung Kidul membutuhkan tambahan anggaran untuk pembeli obat-obatan untuk hewan ternak yang positif dan suspek PMK. Penggunaan disinfektan untuk sterilisasi penyemprotan kandang dan pasar hewan sangat boros.

"Kalau sisa stok obat-obatan ada 1.500 sampai dengan 2.000 dosis. Cukup untuk digunakan sekitar 500 hewan ternak. Masih aman asalkan tidak ada lonjakan kasus. Sebagai langkah persiapan, kami mengajukan tambahan anggaran penanganan PMK," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunung Kidul Wibawanti Wulandari membenarkan bahwa penanganan PMK menggunakan sisa obat antraks. Pihaknya meminta kepada masyarakat agar tidak panik secara berlebihan. Petugas sedang berupaya keras melakukan upaya memutus rantai penyebaran PMK.

"Penutupan pasar hewan sangat efektif mencegah PMK," kata Wibawanti Wulandari.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement