Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Kekuatan Puasa di Balik Pertemuan Adam Hawa dan Diselamatkannya Nuh AS dari Banjir

Senin 30 May 2022 19:41 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi puasa. Syariat puasa telah berlaku sejak para nabi dan rasul terdahulu termasuk Adam dan Nuh

Ilustrasi puasa. Syariat puasa telah berlaku sejak para nabi dan rasul terdahulu termasuk Adam dan Nuh

Foto: Pixabay
Syariat puasa telah berlaku sejak para nabi dan rasul terdahulu termasuk Adam dan Nuh

REPUBLIKA.CO.ID, — Ibadah puasa yang dijalankan umat Nabi Muhammad SAW merupakan syariat yang juga diberlakukan para nabi dan rasul terdahulu.  

Sebagai contoh adalah Nabi Adam AS. Bersama dengan istrinya, Hawa, dia diturunkan Allah Ta'ala dari surga ke muka bumi. Sebab, keduanya telah tergoda rayuan setan sehingga melanggar perintah-Nya, yakni jangan mendekati Pohon Khuldi. 

Baca Juga

Sebelum diturunkan ke bumi, bapak umat manusia itu berpuasa. Dia dan sang istri juga memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah dilakukannya. Doa mereka diabadi kan dalam Alquran surat Al Araf ayat 23: 

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”  

Di bumi, Nabi Adam dan Hawa sempat terpisah satu sama lain. Atas izin Allah SWT, keduanya kembali dipertemukan di Padang Arafah. 

Menurut Ibnu Katsir, Nabi Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun. Riwayat lain mengatakan, sang nabi berpuasa tiap-tiap tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat berjumpa kembali dengan sang istri. Sebuah pendapat menyebutkan, Nabi Adam berpuasa sehari semalam saat dia diturunkan dari surga. 

Puasa juga diamalkan Nabi Nuh AS. Ibadah tersebut dilakukan Sang Rasul pertama itu ketika berada di tengah umatnya dalam bahtera besar. Di luar kendaraan tersebut, banjir yang amat dahsyat mengepung segenap penjuru. Bencana itu menjadi azab bagi kaum yang dimurkai Allah SWT.    

Salah seorang yang merasakan musibah itu adalah Kanan bin Nuh AS. Saat air memancar dari mana-mana dan turun pula hujan badai dari langit dengan amat derasnya, putra sang nabi itu berusaha naik ke perbukitan. Pemuda ini tidak memedulikan ajakan ayahnya yang memintanya untuk segera ikut masuk ke dalam bahtera. 

Kisah bapak dan anak itu terdapat dalam Alquran surah Hud ayat 42-46. Di akhir cerita, Kan'an tetap menolak imbauan ayahnya sehingga dia termasuk orang-orang yang tenggelam dalam banjir besar. Sebelum anaknya itu hilang dari pandangan, Nabi Nuh sesungguhnya sempat memohon kepada Allah agar sang putra diselamatkan. 

Namun, dia berkehendak bahwa Kan'an men dapatkan azab karena maksiat dan ke ingkarannya. Sang nabi kemudian menyadari teguran-Nya itu sehingga berkata: 

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi."   

Menurut Ibnu Katsir dalam sebuah kitabnya, Nabi Nuh setiap hari berpuasa saat sedang berada di atas perahu besar yang menampung manusia dan hewan-hewan atas izin Allah SWT. Dengan penuh kesabaran, salah seorang rasul Ulul Azmi itu menjalankan perintah Allah SWT.

Menukil penjelasan dari Ibnu Majah, Ibnu Katsir mengatakan, puasa yang diamalkan Nabi Nuh itu berlangsung setiap hari selama setahun penuh, kecuali pada dua hari raya.      

sumber : Harian Republika
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA