Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

Golkar Terbuka Jika Nasdem, PKS, dan Demokrat Gabung KIB

Senin 30 May 2022 16:17 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Ilham Tirta

Ace Hasan Syadzily.

Ace Hasan Syadzily.

Foto: istimewa
Koalisi harus bisa menyamakan persepsi dan platform antara partai politik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily menanggapi ajakan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk bergabung dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Keterbukaan tersebut tak hanya berlaku kepada PKS, tetapi juga Partai Nasdem dan Partai Demokrat.

"Kami sekali lagi terbuka, termasuk dengan PKS, termasuk kepada Partai Demokrat, termasuk juga kepada partai-partai yang lain, seperti Nasdem," ujar Ace di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Baca Juga

Koalisi Indonesia Bersatu, jelas Ace, sifatnya masih inklusif sehingga masih menerima partai-partai lain untuk bergabung. Terpenting dalam koalisi adalah harus bisa menyamakan persepsi hingga platform antara partai politik yang bekerja sama.

"Koalisi tentu harus dibangun berdasarkan atas kesamaan pandangan, kesamaan platform, sehingga ketika kita melangkah tentu tidak ada perbedaan-perbedaan yang prinsipil sehingga koalisi ini menjadi mudah terpecah," ujar Ace.

fnMw8rlitF0

Sebelumnya, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan hadir langsung dalam perayaan Milad ke-20 PKS. Ia pun menggunakan kesempatan pidatonya untuk mengajak PKS bergabung dengan Koalisi Indonesia Bersatu yang telah dibentuk oleh partainya, Partai Golkar, dan PPP.

"Kami, Golkar, dan PPP mencoba membuat Koalisi Indonesia Bersatu ya itu coba. Maksudnya mudah-mudahan PKS bisa bersama-sama, maksudnya itu jangan dua lagi, calonnya jangan dua lagi Pilpres besok," ujar Zulkifli dalam pidatonya di Istora Senayan, Jakarta, Ahad (29/5/2022).

Ia menjelaskan, polarisasi di masyarakat masih terasa pasca pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Hal tersebut merupakan dampak hanya hadirnya dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang membuat pendukungnya mati-matian membela keduanya.

"Atmosfer kita itu pengap, negatif, dan tidak produktif. Mungkin akibat Pilpres kemarin hanya dua pasang. Karena Pilpres hanya dua pasang, para pendukung mati-matian mendukung kandidatnya," ujar Zulkifli.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA