Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Riset Mandiri: Kredit Perbankan Diproyeksikan 7,5 Persen Akhir 2022

Sabtu 28 May 2022 08:59 WIB

Rep: Novita Intan / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga bertansaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Galeri ATM Stasiun KA Juanda, Jakarta. Pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung di Tanah Air diyakini akan mendorong pertumbuhan kredit pada tahun ini. Mandiri Research memperkirakan penyaluran pembiayaan pada 2022 akan tumbuh 7,5 persen dibandingkan dengan 2021.

Warga bertansaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Galeri ATM Stasiun KA Juanda, Jakarta. Pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung di Tanah Air diyakini akan mendorong pertumbuhan kredit pada tahun ini. Mandiri Research memperkirakan penyaluran pembiayaan pada 2022 akan tumbuh 7,5 persen dibandingkan dengan 2021.

Foto: Antara/Reno Esnir
Riset Mandiri yakini tren peningkatan pertumbuhan kredit perbankan berlanjut di 2022

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung di Tanah Air diyakini akan mendorong pertumbuhan kredit pada tahun ini. Mandiri Research memperkirakan penyaluran pembiayaan pada 2022 akan tumbuh 7,5 persen dibandingkan dengan 2021.

Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan tren peningkatan pertumbuhan kredit perbankan masih akan berlanjut pada 2022. Penurunan kasus Covid- 19 yang signifikan dan tetap terkendali pascalibur Lebaran, akan memperkuat keyakinan konsumen dan meningkatkan mobilitas masyarakat untuk menggerakkan perekonomian lebih cepat.

“Aktivitas ekonomi yang meningkat tersebut akan mendorong permintaan kredit lebih tinggi ke depan, terutama untuk ekspansi bisnis dan memenuhi biaya operasional perusahaan yang kembali berjalan normal. Kami memperkirakan kredit perbankan tahun ini akan tumbuh sebesar 7,5 persen yoy,” ujarnya dalam risetnya, Sabtu (28/5/2022).

Merujuk pada Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Februari 2022 yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kata Dendi, kredit perbankan tumbuh sebesar 6,3 persen (yoy), dengan nilai total kredit sebesar Rp 5.762,4 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2020. Sebagai catatan, kredit kembali tumbuh positif sejak Juni 2021 dan terus terakselerasi setelah mengalami kontraksi berturut-turut sejak Oktober 2020.

Secara month-to-month (mtm), kredit pada Februari 2022 meningkat sebesar 0,9 persen, membaik dibandingkan Januari 2022 yang terkontraksi sebesar minus satu persen mtm. Lebih lanjut OJK juga sempat melaporkan bahwa kredit pada Maret 2022 masih tumbuh lebih tinggi lagi sebesar 6,7 persen yoy.

Berdasarkan data yang sama, kata Dendi, pertumbuhan kredit lapangan usaha dan kredit konsumsi meningkat pada Februari 2022. Secara total, kredit lapangan usaha tumbuh lebih tinggi pada Februari 2022 sebesar 6,8 persen yoy, dibandingkan Januari 2022 tumbuh 6,1 persen yoy.

“Penyaluran kredit ke sektor-sektor utama lapangan usaha tumbuh meningkat,” kata Dendi.

Adapun sektor-sektor utama tersebut antara lain sektor perdagangan besar dan eceran (5,9 persen yoy Februari 2022 vs. 4,2 persen yoy Januari 2022); industri pengolahan (9,2 persen yoy Februari 2022 vs 9 persen yoy Januari 2022) dan pertanian, perburuan dan kehutanan (8,6 persen yoy Februari 2022 vs 8,1 persen yoy Januari 2022).

Sementara itu, pertumbuhan kredit sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi melambat dari 11,1 persen yoy pada Januari 2022 menjadi 8,8 persen yoy pada Februari 2022. Pertumbuhan kredit tersebut dibarengi dengan kualitas kredit yang makin sehat. Pada Februari 2022, kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,08 persen, sedikit menurun dibandingkan Januari 2022 sebesar 3,10 persen.

Perbaikan kualitas kredit terjadi pada kredit sektor lapangan usaha dengan NPL yang menurun dari 3,63 persen pada Januari 2022 menjadi 3,60 persen pada Februari 2022.

Kemudian NPL tertinggi pada Februari 2022 pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum (6,46 persen), diikuti sektor perikanan (6,13 persen) dan industri pengolahan (5,08 persen). Lalu, NPL kelompok kredit rumah tangga sedikit meningkat dari 1,84 persen pada Januari 2022 menjadi 1,85 persen pada Februari 2022. NPL tertinggi kredit rumah tangga pada Februari 2022 masih terjadi kelompok kredit pemilikan ruko atau rukan 4,83 persen.

“Sebagai tambahan, juga berdasarkan siaran pers singkat OJK mengenai perkembangan kredit yang sudah sampai Maret 2022, NPL pada Maret 2022 tercatat mengalami penurunan ke level 2,99 persen,” ucapnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA