Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Enam Pendemo di Sarmi Papua Ditembak Polisi, Kapolda: Mereka Anarkis

Jumat 27 May 2022 22:24 WIB

Red: Ilham Tirta

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri.

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri.

Foto: Dok Polri
Para pendemo disebut menyerang dan menganiaya Sekda Sarmi dan anggota polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Kepala Polda Papua Irjen Mathius Fakhiri menyatakan, unjuk rasa sekelompok warga di Jembatan Tor Atas berlangsung anarkis. Menurut dia, aksi itu memaksi aparat dari Polres Sarmi bertindak tegas dengan menembak mereka.

Akibat peristiwa itu, enam warga mengalami luka tembak. Mathius mengatakan, pendemo yang bertindakanarkis itu awalnya menyerang Sekretaris Daerah (Sekda) Sarmi, Elias Bakay hingga terluka di bagian kepala.

Baca Juga

"Akibat aksi anarkis itu, petugas melepaskan tembakan peringatan ke pendemo yang menuntut ganti rugi pembayaran hak ulayat Jembatan Tor Atas. Mereka terus menyerang dengan menggunakan senjata tajam dan senjata tradisional seperti panah, yang menyebabkantiga anggota terluka," kata Mathius di Jayapura, Jumat (27/5/2022), malam.

Enam orang pendemo yang mengalami luka tembak adalah Rio Weiraso, Tandius Saroni, Izak Anabe, Leo Weraso, Dedeus Sarone, dan Esra Mamawiso. Insiden yang terjadi Jumat (27/5/2022) sore sekitar pukul 17.00 WIT itu berawal saat anggota Polres Sarmi berupaya membubarkan aksi pemalangan jembatan.

Ada sekitar 100 warga gabungan dari Tor Atas, Apawer, serta Mafen Tor, yang menuntut pembayaran hak ulayat Jembatan Tor Atas. Pemalangan dilakukan sejak pukul 15.00 WIT hingga menyebabkan lalu lintas dari dan ke Sarmi buntu.

Sekitar pukul 17.00 WIT, Sekda Sarmi Elias Bakay bersama personel Polres Sarmi yang dipimpin Kabag Ops AKP Josua Abba mendatangi TKP. Mereka mengadakan pertemuan dengan massa yang melakukan pemalangan, tapi tidak menemui titik terang terkait dengan pembayaran.

Karena tidak puas dengan hasil pertemuan tersebut, massa menganiaya Sekda Sarmi. Elias yang berupaya mengamankan diri tetap dikejar.

Fakhiri menjelaskan, aksi massa sempat dihentikan petugas dengan memblokade jalan, tetapi aksi mereka makin anarkis dan menyerang anggota dengan menggunakan tombak dan panah. Menghadapi situasi tersebut, petugas mengeluarkan tembakan peringatan.

"Saat ini pendemo masih bertahan di Kampung Mafentor dan memblokade jalan," kata Kapolda. Hingga saat ini, belum ada keterangan dari pihak pendemo bagaimana kejadian tersebut.

 

 

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA