Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Rusia Salahkan Barat atas Krisis Pangan

Jumat 27 May 2022 22:12 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

 Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara selama perekaman pesan video kepada para peserta dan tamu pembukaan tahap akhir Festival All-Rusia XI Liga Hoki Malam di Moskow, Rusia, Selasa, 10 Mei 2022.

Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara selama perekaman pesan video kepada para peserta dan tamu pembukaan tahap akhir Festival All-Rusia XI Liga Hoki Malam di Moskow, Rusia, Selasa, 10 Mei 2022.

Foto: AP/Mikhail Metzel/Pool Sputnik Kremlin
Putin menilai tidak realistis di dunia modern ini dengan mengisolasi Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia menekan Barat untuk mencabut sanksi atas perang di Ukraina. Moskow pun melihat sanksi itu sebagai penyebab krisis pangan. Kondisi itu diperburuk oleh ketidakmampuan Kiev untuk mengirimkan jutaan ton biji-bijian dan produk pertanian lainnya saat diserang.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Moskow siap memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengatasi krisis pangan melalui ekspor biji-bijian dan pupuk. Namun usaha itu dapat dilakukan dengan syarat bahwa pembatasan bermotif politik yang diberlakukan oleh Barat dicabut.

Baca Juga

Putin mengatakan, tidak mungkin dan tidak realistis di dunia modern untuk mengisolasi Rusia. Berbicara melalui video kepada anggota Forum Ekonomi Eurasia yang terdiri dari beberapa negara bekas Uni Soviet, dia mengatakan Barat sedang mencoba melukai diri mereka sendiri.

Juru bicara Istana Kremlin Dmitri Peskov menambahkan, Barat harus membatalkan keputusan melanggar hukum yang menghambat penyewaan kapal dan mengekspor biji-bijian. Komentarnya tampaknya merupakan upaya untuk menyamakan blokade ekspor Ukraina dengan kondisi Rusia sebagai kesulitan dalam memindahkan barangnya sendiri.

Klaim Rusia tentang keputusan sanksi barat menyulitkan ekspor pangan pun dibantah Barat. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mencatat pekan lalu,  makanan, pupuk dan benih dibebaskan dari sanksi yang dikenakan oleh AS dan banyak negara lainnya. Washington bekerja untuk memastikan negara-negara mengetahui aliran barang-barang itu tidak boleh terpengaruh.

Ukraina adalah salah satu pengekspor gandum, jagung, dan minyak bunga matahari terbesar di dunia. Namun perang dan blokade Rusia terhadap pelabuhannya telah menghentikan sebagian besar aliran itu, membahayakan pasokan makanan dunia. Banyak dari pelabuhan itu sekarang juga banyak ditambang.

Dengan perang yang memasuki bulan keempat, para pemimpin dunia telah meningkatkan seruan untuk solusi damai. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan, sekitar 25 juta ton gandum Ukraina disimpan dan 25 juta ton lainnya dapat dipanen bulan depan.

Negara-negara Eropa telah mencoba meredakan krisis dengan memindahkan biji-bijian ke luar negeri dengan kereta api. Namun kereta api hanya dapat membawa sebagian kecil yang diproduksi Ukraina dan kapal diperlukan untuk sebagian besar ekspor

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA