Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Meski Ada Penembakan, Asosiasi Senapan AS Tetap Gelar Konvensi Tahunan

Jumat 27 May 2022 19:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Korban penembakan massal di Texas, AS

Korban penembakan massal di Texas, AS

Foto: VOA
Asosiasi Senapan AS gelar konvensi tahunan dan akan merenungi penembakan di Texas

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Asosiasi Senapan Nasional (NRA) Amerika Serikat memulai konvensi tahunan di Houston pada Jumat (27/5/2022).  Mantan Presiden Donald Trump dan tokoh Partai Republik lainnya dijadwalkan untuk berpidato di acara konvensi tahunan yang berlangsung selama tiga hari.

Beberapa pembicara dan artis yang dijadwalkan memberikan pidato, termasuk dua anggota parlemen Texas memilih untuk tidak hadir dalam konvensi tersebut. Seorang penyanyi, Don McLean mengatakan, tidak etis bahwa konvensi tahunan NRA tetap berjalan setelah insiden penembakan mematikan di Robb Elementary School di Ulvade, Texas pada Selasa (24/5/2022) lalu. Penembakan tersebut menewaskan 19 siswa dan dua guru.

Presiden Joe Biden dan Partai Demokrat di Kongres telah menyerukan untuk memperbarui undang-undang senjata yang lebih ketat. Sementara anggota dewan NRA, Phil Journey mengatakan, fokusnya saat ini adalah perawatan kesehatan mental yang lebih baik dan berusaha mencegah kekerasan senjata.  Journey mengatakan, dia tidak akan mendukung pelarangan atau pembatasan akses ke senjata api.

NRA mengatakan, peserta konvensi tahunan akan "merenungi" penembakan di Robb Elementary School, di Uvalde. "Kami akan berdoa untuk para korban, dan berjanji untuk meningkatkan komitmen kami untuk membuat sekolah aman," kata pernyataan NRA.

Beberapa kelompok mengatakan mereka berencana untuk menggelar protes di luar tempat konvensi NRA. Polisi sudah memasang penghalang logam untuk keamanan.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk mengadakan konvensi ini. Kita membutuhkan tindakan untuk mengatasi krisis kesehatan masyarakat yang mempengaruhi komunitas kita ini," ujar Direktur Eksekutif FIEL, sebuah kelompok hak-hak sipil yang berbasis di Houston, Cesar Espinosa.

Gary Francis bepergian bersama istri dan teman-temannya dari Racine, Wisconsin, untuk menghadiri pertemuan tahunan NRA. Francis mengatakan, dia menentang peraturan kontrol senjata dalam menanggapi penembakan di Uvalde.

"Apa yang terjadi di sana jelas tragis. Tapi NRA tidak ada hubungannya dengan itu. Orang-orang yang datang ke sini tidak ada hubungannya dengan itu," kata Francis.

Terdapat kritik bagi NRA yang tetap melangsungkan pertemuan tahunan di tengah duka dan kontroversi kepemilikan senjata api. Pada 1999, NRA pernah melangsungkan pertemuan tahunan sekitar seminggu setelah penembakan mematikan di Columbine High School di Colorado. Presiden NRA pada saat itu, Charlton Heston, mengatakan, "tindakan mengerikan" tidak boleh dijadikan celah untuk membatasi hak konstitusional. Dia juga mencela kritik karena menyebut anggota NRA sebagai "penjahat."

Mantan anggota dewan NRA, Rocky Marshall, mengatakan, meskipun tragedi di Uvalde membuat pertemuan itu menjadi buruk, itu bukan alasan untuk membatalkannya. Marshall mengatakan, pendukung dan penentang hak senjata dapat mengurangi kekerasan senjata jika mereka fokus pada beberapa faktor seperti penyakit mental atau keamanan sekolah.

“Melempar batu ke NRA, itu tidak menyelesaikan penembakan massal berikutnya. Melempar batu ke orang-orang yang membenci senjata, itu tidak menyelesaikan masalah penembakan massal," kata Marshall.

Juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan, para pemimpin NRA berkontribusi pada masalah kekerasan senjata dan tidak berusaha menyelesaikannya. Jean-Pierre menuduh NRA mewakili kepentingan produsen senjata, yang memasarkan senjata kepada orang dewasa muda.

Dua anggota parlemen Texas dari Partai Republik yang dijadwalkan berbicara pada Jumat, Senator AS John Cornyn dan Dan Crenshaw tidak hadir dalam konvensi tahunan NRA. Sementara Gubernur Texas, Greg Abbott, yang dijadwalkan untuk hadir, justru akan berpidato di konvensi tahunan NRA melalui video yang direkam sebelumnya.

Kepemilikan senjata api menjadi isu panas yang masih diperdebatkan di Amerika Serikat. Pengendalian akses senjata api menjadi salah satu masalah yang telah memecah belah antarnegara bagian.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA