Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Harga Sapi Bali di Tapin Melonjak Dampak PMK

Kamis 26 May 2022 19:00 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Pekerja membersihkan kandang sapi di salah satu peternakan sapi (ilustrasi)

Pekerja membersihkan kandang sapi di salah satu peternakan sapi (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Fauzan
Tansaksi perdagangan sapi dari daerah produktif ternak juga dibatasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TAPIN -- Harga sapi Bali di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan naik sebesar 50 persen lebih sebagai salah satu dampak dari penyakit mulut dan kuku (PMK) di beberapa wilayah di Indonesia. "Setelah adanya PMK harga sapi meroket. Sebelumnya di kisaran Rp 14 juta hingga Rp 16 juta per ekor, sedangkan saat ini ada di harga Rp 18 juta hingga Rp 19 juta untuk jenis sapi Bali," kata Kepala Dinas Pertanian Tapin Wagimin di Rantau, Kamis (26/5/2022).

Dia menjelaskan, dengan adanya arahan pemerintah pusat terhadap pembatasan transaksi perdagangan sapi dari daerah produktif ternak, seperti Medan, Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi faktor utama naiknya harga sapi. "Sesuai arahan menteri, sapi dari tiga daerah itu tidak boleh masuk ke daerah lain, karena terindikasi PMK," ujarnya.

Baca Juga

Selain sapi yang berasal dari tiga wilayah tersebut, kata dia, masih diperbolehkan masuk ke Kalimantan Selatan namun harus melalui proses pemeriksaan kesehatan yang ketat. "Misalnya dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, boleh saja masuk dengan syarat memenuhi standar kesehatan dan tidak terindikasi PMK," ujarnya.

Saat ini, ketersediaan sapi di Tapin menjelang Idul Adha baik dari peternak ataupun pedagang ada 850 ekor. Jumlah tersebut, kata dia, diperkirakan masih cukup. Namun karena pembatasan transaksi tersebut harga ditingkat petani dan pedagang menjadi naik. "92 persen masyarakat Tapin, lebih memilih sapi dibanding kambing sebagai hewan qurban," ungkapnya.

Seorang peternak sapi di Tapin Aiman Fadillah menjelaskan meskipun harga naik, sekarang daya beli masyarakat masih cukup tinggi. "Ada 25 ekor sapi yang sudah dibeli ataupun dipesan. Sekarang tidak bisa memenuhi permintaan pesanan lagi karena mencari sapi sulit sekali," ujarnya.

Tahun lalu, kata dia, dengan harga yang standar paling murah Rp 12 juta hingga Rp 13 juta penjualan sapi lebih 40 ekor saat memasuki momentum bersejarah umat Muslim tersebut. "Tahun lalu, saya malah kewalahan saking banyaknya permintaan. Sekarang, harga tinggi, sapi sulit dicari," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA