Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Zelenskyy Tolak Usulan Penyerahan Wilayah untuk Akhiri Perang

Kamis 26 May 2022 23:52 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Foto: AP/Efrem Lukatsky
Ukraina tidak bersedia memberikan bagian wilayahnya kepada Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Rabu (25/5/2022) menolak mentah-mentah usulan agar Kiev menyerahkan wilayah dan membuat konsesi untuk mengakhiri perang dengan Rusia. Zelenskyy mengatakan, usulan itu merupakan upaya untuk berdamai dengan Nazi Jerman seperti yang terjadi pada 1938.

Komentar-komentar murka Zelenskyy dan seorang pejabat seniornya muncul saat pasukan Ukraina menghadapi serangan baru di dua wilayah timur yang sebagian dikuasai oleh separatis berbahasa Rusia pada 2014. Dewan redaksi New York Times mengatakan pada 19 Mei, perdamaian yang dirundingkan mungkin mengharuskan Kiev membuat beberapa keputusan sulit, mengingat kemenangan militer yang menentukan tidak realistis.

Baca Juga

Mantan menteri luar negeri AS Henry Kissinger pekan ini menyarankan di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Ukraina harus membiarkan Rusia mempertahankan Krimea, yang dicaplok pada 2014. "Apa pun yang dilakukan negara Rusia, Anda akan selalu menemukan seseorang yang mengatakan 'Mari kita pertimbangkan kepentingannya'," kata Zelenskyy dalam pidato video larut malam.

"Anda mendapat kesan bahwa Kissinger tidak memiliki tahun 2022 di kalendernya, tetapi tahun 1938, dan bahwa dia pikir dia sedang berbicara dengan audiens bukan di Davos tapi di Munich saat itu."

Pada 1938, Inggris, Prancis, Italia, dan Jerman menandatangani perjanjian di Munich yang memberi diktator Nazi Adolf Hitler tanah di Cekoslowakia saat itu. Perjanjian itu sebagai bagian dari upaya yang gagal untuk membujuknya meninggalkan ekspansi teritorial lebih lanjut.

"Mungkin New York Times juga menulis hal serupa pada 1938. Tapi saya ingatkan, sekarang sudah 2022," kata Zelenskyy.

"Mereka yang menyarankan Ukraina untuk memberikan sesuatu kepada Rusia, 'tokoh-tokoh geopolitik hebat' ini, tidak pernah melihat rakyat kecil, rakyat kecil Ukraina, jutaan orang yang tinggal di wilayah yang mereka usulkan untuk ditukar dengan perdamaian."

Italia dan Hongaria telah mendesak Uni Eropa untuk menyerukan secara eksplisit gencatan senjata di Ukraina dan pembicaraan damai dengan Rusia, yang menempatkan dua negara itu bertentangan dengan negara-negara anggota EU lain yang bertekad untuk mengambil garis keras melawan Moskow.

Sebelumnya, dalam kritik penuh amarah, penasihat Zelenskyy Oleksiy Arestovych mengatakan beberapa negara Eropa jelas ingin Ukraina membuat konsesi kepada Putin.

"Tidak ada yang akan memperdagangkan satu gram kedaulatan kami atau satu milimeter wilayah kami," katanya dalam pernyataan video yang diunggah secara daring.

"Anak-anak kami sekarat, tentara hancur oleh mortir, dan mereka menyuruh kami mengorbankan wilayah. Sesat. Itu tidak akan pernah terjadi."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya mengatakan rencana perdamaian Italia untuk Ukraina adalah fantasi. "Anda tidak dapat memasok Ukraina dengan senjata dengan satu tangan dan membuat rencana untuk penyelesaian situasi secara damai dengan tangan yang lain," kata Maria Zakharova pada pengarahan mingguannya, mengacu pada inisiatif Italia.

Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio memberikan garis besar rencana tersebut pekan lalu. Kremlin mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya belum melihat inisiatif tersebut tapi berharap untuk menerimanya melalui saluran diplomatik.

Zakharova mengatakan tentang proposal yang dilaporkan itu. "Jika mereka berharap bahwa Federasi Rusia akan memanfaatkan rencana apa pun dari Barat, maka mereka belum banyak mengerti," katanya, dilansir dari Reuters, Kamis (26/5/2022).

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA