Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Bank Dunia: Perang Ukraina Rusia Bisa Picu Resesi Global

Kamis 26 May 2022 15:49 WIB

Rep: kamran dikarma/ Red: Hiru Muhammad

 Tim penyelamat bekerja di lokasi sebuah gedung apartemen yang dihancurkan oleh penembakan Rusia di Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina, Rabu, 18 Mei 2022.

Tim penyelamat bekerja di lokasi sebuah gedung apartemen yang dihancurkan oleh penembakan Rusia di Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina, Rabu, 18 Mei 2022.

Foto: AP/Andriy Andriyenko
Ukraina dan Rusia adalah pemain besar dalam produksi pangan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan, perang di Ukraina dapat memicu resesi global. Konflik di sana telah mendorong kenaikan harga pangan dan energi dunia.

“Ketika kita melihat PDB (produk domestik bruto) global, sulit sekarang untuk melihat bagaimana kita menghindari resesi. Gagasan harga energi dua kali lipat sudah cukup memicu resesi dengan sendirinya,” kata Malpass dalam sebuah acara yang digelar Kamar Dagang Amerika Serikat (AS), dikutip laman Sky News, Kamis (26/5/2022).

Baca Juga

Dia mengungkapkan, ekonomi Jerman, yang merupakan terbesar keempat di dunia, telah melambat signifikan karena kenaikan harga energi. Eropa, Cina, dan AS mengalami pertumbuhan lebih lambat. Sementara negara-negara berkembang terimbas dampak inflasi yang lebih parah. “Perang juga telah menyebabkan kekurangan pupuk yang dapat memperburuk kondisi ekonomi di tempat lain,” ucapnya.

Bulan lalu, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk 2022 hampir satu persen penuh, yakni dari 4,1 persen menjadi 3,2 persen. Dampak konflik di Ukraina menjadi faktor penyebabnya.

Ukraina dan Rusia adalah pemain besar dalam produksi pangan dunia. Menurut PBB, mereka mewakili 53 persen perdagangan global minyak bunga matahari dan biji-bijian, serta 27 persen gandum. Di Afrika, 25 negara mengimpor lebih dari sepertiga gandum mereka dari Ukraina dan Rusia.

Selain itu, Rusia dan Ukraina mengekspor 28 persen pupuk yang terbuat dari nitrogen dan fosfor, serta kalium. Konflik telah menghambat Ukraina melakukan pengiriman pasokan ke luar negeri. Sementara sanksi Barat telah mencegat Rusia mengekspor komoditas energinya.

Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung sejak 24 Februari lalu. Meski sudah melangsungkan beberapa putaran negosiasi, kedua negara tersebut belum bisa menyepakati perjanjian penuntasan konflik.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA