Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Din Syamsuddin Hadiri Pertemuan 500 Tokoh Penting di Qatar

Kamis 26 May 2022 15:03 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah

Din Syamsuddin

Din Syamsuddin

Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
Konferensi tahunan ini sempat terhenti dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah dari Kazan di Rusia, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin menghadiri Doha International Interfaith Conference pada 24-25 Mei 2022 di Qatar. Konperensi ini adalah acara tahunan yang berlangsung sejak 2010, tapi sempat terhenti dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19.

Din mengatakan, pada pertemuan ke-12 tahun ini, membahas tema utama Religion and Hate Speech: Scripture and Practices atau agama dan ujaran kebencian, kitab suci dan praktik. Sebab isu ujaran kebencian menjadi masalah global yang menciptakan ketegangan bahkan konflik, baik antar agama maupun antar bangsa.

Baca Juga

"Hadir pada konferensi ini 500 tokoh berbagai agama, akademisi, dan pencipta perdamaian dunia, dari berbagai negara dunia," kata Din melalui pesan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (26/5/2022).

Dalam konferensi yang dihadiri 500 tokoh penting ini, Din membawakan sesi tentang faktor dan akibat ujaran kebencian. Dalam sisi itu, Din menegaskan bahwa ujaran kebencian adalah bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan, dalam agama Islam, seorang Muslim dianjurkan untuk mengatakan ucapan yang baik atau lebih baik diam. "Ujaran kebencian yang memenuhi jagad manusia, baik bentuk fobia terhadap sesuatu agama seperti Islamofobia ataupun labelisasi terhadap sesuatu kelompok adalah sumber malapetaka peradaban, pelaku-pelakunya adalah kaum perusak," ujar Mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

Din yang juga Guru Besar FISIP UIN Jakarta mengatakan, ujaran kebencian sesungguhnya lahir dari rasa ketakutan atau inferioritas terhadap kelompok lain. Maka sejatinya ujaran kebencian, apapun bentuknya adalah sikap irasional yang hanya dilakukan oleh orang-orang pengecut yang tidak bertanggung jawab.

"Maka, sudah waktunya umat manusia cinta kebenaran dan kedamaian, untuk bangkit bersama melawan kelompok pengecut ini, seperti para buzzer, baik yang bekerja karena kebodohan maupun yang menjadikannya sebagai mata pencaharian," ujar Din.

Terhadap mereka yakni kelompok pengecut, menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Partai (MPP) Pelita ini, cukup disambut dengan tertawa sambil didoakan untuk mendapat hidayah Ilahi. Terhadap yang keterlaluan memang pantas diadukan ke proses hukum.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA