Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

Dampak PMK, Pedagang Sapi di Tasikmalaya Belum Bisa Berjualan

Kamis 26 May 2022 14:58 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah

Seorang pengusaha sapi, Nandang Suryana, melihat kondisi hewan ternak miliknya di kandang yang berlokasi di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Kamis (26/5/2022). Hanya terdapat dua ekor sapi di kandang yang bisa menampung 400 ekor sapi itu. Padahal, pada momen jelang Iduladha biasanya kandang itu dipenuhi ratusan ekor sapi.

Seorang pengusaha sapi, Nandang Suryana, melihat kondisi hewan ternak miliknya di kandang yang berlokasi di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Kamis (26/5/2022). Hanya terdapat dua ekor sapi di kandang yang bisa menampung 400 ekor sapi itu. Padahal, pada momen jelang Iduladha biasanya kandang itu dipenuhi ratusan ekor sapi.

Foto: Republika/Bayu Adji
Sepinya kandang sapi itu merupakan dampak dari wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kandang sapi pengusaha Nandang Suryana di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, masih sepi pada Kamis (26/5/2022). Hanya terdapat dua ekor sapi di kadang yang bisa menampung 400 ekor hewan ternak itu. Sepinya kandang sapi itu merupakan dampak dari wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

"Kalau terdampak, saya ikut terdampak. Biasanya bulan Syawal itu sudah penuh sapi di sini, tapi sekarang masih kosong," kata Nandang saat tempatnya didatangi

Baca Juga

Menurut dia, pesanan sapi untuk kebutuhan kurban Idul Adha sudah banyak. Lebih dari 100 ekor sapi dipesan di tempatnya. Namun, sapi-sapi itu belum bisa didatangkan dari daerah asalnya karena merebaknya wabah PMK.

Padahal, Nandang mengaku sudah memiliki sapi di sejumlah daerah, salah satunya di Magetan, Jawa Timur (Jatim). Namun, pemerintah setempat belum bisa mengeluarkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) untuk sapi miliknya. Alhasil, sapi-sapi itu belum bisa dikirimkan ke Tasikmalaya. "Saya juga tidak mau ambil risiko (memaksakan mendatangkan sapi)," kata dia.

Nandang menjelaskan, sapi-sapi yang didatangkan dari luar daerah biasanya ditempatkan dulu di kandang miliknya selama sekitar dua bulan sebelum dijual kembali. Itu dilakukan untuk merekondisi sapi terlebih dahulu. Selama masa rekondisi, sapi-sapi itu diberikan sejumlah obat dan vitamin agar benar-benar fit saat dijual untuk kebutuhan kurban.

"Namun, sampai sekarang belum ada yang datang. Padahal ini seharusnya masa menjelang Lebaran Haji ini sudah penuh 400 ekor," kata dia.

Ia berharap, pemerintah dapat segera melaksanakan penanganan terkait wabah PMK, salah satunya upaya vaksinasi. Dengan begitu, sapi-sapi yang sehat dapat dipastikan tak terinfeksi PMK. Para peternak juga dapat menjual sapinya yang saat ini sedang dalam masa panen. Selain itu, kebutuhan ternak untuk Idul Adha dapat terpenuhi.

"Ini kan masih ada 40 hari lagi (sebelum Idul Adha). Mudah-mudahan bisa cepat selesai. Kalau tak bisa juga, kami tak akan dagang sapi. Karena berisiko," kata dia.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar), Uu Ruzhanul Ulum, mengatakan, wabah PMK memang berdampak kepada aktivitas para pedagang hewan ternak, khususnya di wilayah Priangan Timur. Sebab, Priangan Timur merupakan daerah paling terdampak PMK di Jabar.

"Kita lihat di sini, di kandang tak ada sapi. Padahal biasanya momen saat ini sapi di kandang sudah penuh dan sapi sudah banyak," kata dia saat meninjau kandang sapi milik Nandang Suryana.

Padahal, ia mengatakan, sudah banyak pesanan sapi untuk kebutuhan kurban kepada para pedagang. Namun, sapi-sapi itu belum bisa didatangkan dari luar kota.

Menurut Uu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar akan mengkaji kebijakan agar sapi asal luar provinsi bisa didatangkan. Sebab, kebutuhan untuk kurban di Jabar masih tergantung pasokan dari luar daerah. "Namun, ia juga sementara minta pengusaha jangan nakal. Kalau sudah dilarang, ikuti itu. Itu semua demi kemasalahatan semua," kata dia.

Berdasarkan catatan Republika.co.id, wabah PMK di Priangan Timur telah menyebar di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar. Uu menyebut, sudah lebih dari 1.000 kasus PMK di wilayah Priangan Timur. Karena itu, pengiriman sapi dari luar daerah sempat disetop.

"Tapi itu semua sudah saya antisipasi. Pemprov bekerja sama dengan para bupati dan wali kota sudah melaksanakan vaksinasi, tapi mungkin belum menyeluruh. Ini harus segera, sehingga waktunya tak terlalu lama bisa selesai," kata dia.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA