Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

UGM Bangun Kawasan Kerohanian

Rabu 25 May 2022 19:03 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

 UGM Bangun Kawasan Kerohanian. Foto: Rumah ibadah (Ilustrasi)

UGM Bangun Kawasan Kerohanian. Foto: Rumah ibadah (Ilustrasi)

Kawasan kerohanian dibangun UGM.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- UGM memulai pembangunan Kawasan Kerohanian untuk mewadahi kegiatan rohani civitas akademika beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Selain itu, dibangun sebagai simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Kawasan Kerohanian masih berlokasi di Kampus UGM. Tepatnya, Kompleks Perumahan Sekip Blok N seluas 4.789 meter persegi. Proses perencanaan Kawasan Kerohanian melibatkan dosen dari berbagai perwakilan kelompok agama sebagai Tim Perumus.

Baca Juga

Pembangunan Kawasan Kerohanian terkait jati diri UGM sebagai universitas Pancasila. UGM sebagai sebuah institusi pendidikan yang terbuka, mempunyai civitas akademika dengan ragam latar belakang suku, agama, bahkan kebangsaan.

Ini tidak lantas membuat terbatas ruang gerak dalam aktivitas. Justru, perbedaan harus dapat diakomodasi wadah kegiatan, memfasilitasi lima agama dalam satu area dan tidak lepas interkoneksinya dengan Mardliyyah Islamic Center dan Masjid UGM.

Peletakan batu pertama sudah dilakukan Rektor UGM, Prof Panut Mulyono, tokoh masyarakat dan pemuka agama. Ia berpendapat, Kawasan Kerohanian ini nantinya akan menjadi simbol anak didik terkait toleransi dan kerukunan umat beragama.

"Terlebih lagi jika bangunan yang berdiri nantinya juga diisi dengan aktivitas-aktivitas yang positif," kata Panut.

Panut menyampaikan, bangunan yang akan didirikan mungkin tidak dapat sepenuhnya mengakomodasi kegiatan peribadatan. Tapi, bisa mewadahi kegiatan-kegiatan skala kecil yang biasanya bersifat internal tapi tetap menekankan jalinan silaturahmi.

"Praktek baik yang dikerjakan di kawasan ini akan dikenang oleh anak didik kita ketika mereka lulus dan membentuk mindset mereka sebagai pemimpin yang berasal dari UGM," ujar Panut.

Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Pratikno, menyambut baik pendidikan Kawasan Kerohanian. Kemajuan teknologi membuat dunia semakin sempit. Pergaulan lintas bangsa, agama dan etnis semakin tinggi, sehingga masyarakat semakin majemuk.

Banyak negara kewalahan menghadapi kemajemukan, namun Indonesia justru telah Bhineka Tunggal Ika sejak era kolonialisme. Ia menilai, kebhinekaan inilah yang perlu dipelihara, sebagai salah satu bentuk pendidikan bagi generasi masa depan.

"Pendidikan bukan hanya di kelas, tapi pendidikan butuh keteladanan, dan kawasan ini sebuah keteladanan Bhineka Tunggal Ika. Kalau kita sama-sama bekerja untuk ini kita bukan hanya menyelamatkan Indonesia, kita menyelamatkan umat manusia," kata Pratikno.

Proses pembangunan dan penyediaan kelengkapan fasilitas pendukung lain dilakukan menggandeng beberapa mitra strategis dan sahabat UGM. Selain itu, memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk berpartisipasi sebagai donatur.

Pelaksanaan konstruksi diperkirakan akan berlangsung sekitar 6-8 bulan yang akan dimulai setelah dilakukan proses pengadaan barang dan jasa. Pembangunan kawasan ini akan menjadi salah satu prioritas bentuk komitmen UGM merawat keberagaman. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA