Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

OJK Ungkap Tiga Masalah UMKM Belum Bisa Naik Kelas

Rabu 25 May 2022 07:14 WIB

Rep: novita intan/ Red: Hiru Muhammad

Pembeli bertransaksi menggunakan QRIS di salah satu toko di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (18/3/2022). Bank Indonesia menargetkan 15 juta merchant Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai menggunakan Quick Response Indonesia Standart (QRIS) pada tahun 2022 guna mendorong perluasan digitalisasi UMKM.

Pembeli bertransaksi menggunakan QRIS di salah satu toko di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (18/3/2022). Bank Indonesia menargetkan 15 juta merchant Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai menggunakan Quick Response Indonesia Standart (QRIS) pada tahun 2022 guna mendorong perluasan digitalisasi UMKM.

Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Pemanfaatan teknologi penting tidak hanya promosi, tetapi juga manajemen UMKM

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tiga permasalahan utama UMKM belum bisa naik kelas. Padahal UMKM merupakan penggerak utama roda perekonomian Indonesia.

Dewan Komisioner OJK Tirta Segara mengatakan saat ini masih banyak masalah yang dihadapi sektor UMKM agar bisa naik kelas, sehingga berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian. “Pertama, banyak UMKM yang belum memanfaatkan teknologi digital, terutama dalam pemasaran dan akses pasar,” ujarnya saat webinar, Selasa (24/5/2022).

Baca Juga

Menurutnya sejalan dengan masih 13 persen jumlah UMKM yang sudah terkoneksi teknologi digital. Pemanfaatan teknologi dinilai penting tidak hanya promosi, tetapi juga dalam manajemen UMKM.

Adapun permasalahan kedua, yakni akses pembiayaan atau modal usaha. Tercatat sekitar 74 persen UMKM belum mendapatkan akses pembiayaan sehingga mereka sulit menggenjot skala produksi.

Menurut Tirta, kesulitan akses ke permodalan ini terjadi karena rumitnya prosedur hingga banyaknya dokumen yang harus dipenuhi di perbankan atau lembaga jasa keuangan. Akibatnya, banyak yang mencari pembiayaan alternatif hingga terjerat rentenir.“Terakhir, rendahnya kualitas dan kapabilitas SDM, banyak pelaku UMKM yang masih sulit melakukan pemasaran, kurang inovatif, sulit mengurus perizinan, serta belum bisa mengelola laporan keuangan," ucapnya. 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA