Friday, 9 Zulhijjah 1443 / 08 July 2022

Dua Kalimat yang Berpotensi Jadi Sumber Kemerosotan Akhlak

Selasa 24 May 2022 14:23 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Petugas amil zakat melayani warga yang membayar zakat (ilustrasi). Dua kalimat berpotensi jadi pemicu kemerosotan akhlak tersebut terkait urgensi zakat

Petugas amil zakat melayani warga yang membayar zakat (ilustrasi). Dua kalimat berpotensi jadi pemicu kemerosotan akhlak tersebut terkait urgensi zakat

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Dua kalimat berpotensi jadi pemicu kemerosotan akhlak tersebut terkait urgensi zakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ulama dan Pemikir asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi mengungkapkan bahwa ada dua kalimat yang menjadi sumber dekadensi moral atau merosotnya akhlak. 

Kedua kalimat ini telah dijelaskan Nursi dalam "Kalimat Kedua Puluh Lima" saat membandingkan antara peradaban modern dan ketetapan Alquran.  

Baca Juga

"Ada dua kalimat yang menjadi sumber kemerosotan akhlak dan kekacauan dalam kehidupan sosial umat manusia," kata Siad Nursi dikutip dari bukunya yang berjudul "Risalah Ikhlas dan Ukhuwah" terbitan Risalah Nur.  

Kalimat pertama yang menjadi sumber kemorosotan akhlak adalah, “Yang penting aku kenyang, tidak peduli yang lain mati kelaparan.” Sedangkan kalimat yang kedua adalah, “Anda bekerja, saya makan.”  

Menurut Nursi, kedua kalimat bisa tetap eksis dan terus tumbuh adalah karena tidak ditunaikannya zakat. "Yang membuat kedua kalimat tersebut tetap eksis dan tumbuh subur adalah tersebarnya riba dan tidak ditunaikannya zakat," jelas Nursi. 

Adapun solusi satu-satunya dan obat yang ampuh untuk kedua penyakit sosial tersebut adalah penerapan kewajiban membayar zakat kepada masyarakat secara umum dan pengharaman riba. 

Sebab, lanjut Nursi, urgensi zakat tidak terbatas hanya pada individu atau sejumlah kelompok. Menurut Nursi, zakat adalah pilar penting dalam membangun kehidupan yang bahagia dan sejahtera bagi umat manusia.  

Bahkan, tambah Nursi, zakat merupakan landasan utama bagi langgengnya kehidupan hakiki manusia. Hal itu dikarenakan di dalam masyarakat terdapat dua tingkatan, yaitu kaya dan miskin.  

"Zakat adalah bentuk kasih sayang dan kebaikan kalangan kaya kepada kalangan miskin. Sebaliknya, dia menjamin sikap hormat dan taat kalangan miskin kepada kalangan kaya," kata Nursi.  

 

Manfaat zakat 

Bagi muzaki, satu di antara keistimewaan zakat ialah membersihsucikan hartanya. Bagi mustahik, melalui dana zakat terbantulah berbagai kesulitan mereka dalam bidang sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Bagi amilin, dengan dana zakat, bagaimanapun mereka bisa membantu para mustahik, bahkan dirinya sendiri bisa juga terbantu dengan sebab memiliki hak untuk mendapatkan sebagian dari dana zakat yang dikelolanya.

Dengan dana zakat, terjalinlah harmonisasi hubungan sosial ekonomi dan keuangan antara segi tiga unsur utama, muzaki, amilin, dan mustahik. Terutama, dalam hal pemerataan kesejahteraan sosial ekonomi dan keuangan.

Melalui dana zakat, kemungkinan pusaran harta kekayaan hanya berada pada segelintir orang-orang kaya saja (QS al-Hasyr [59]: 7) sedikit banyak akan bisa dikurangi.

Begitu pula, dengan dana zakat kehidupan sosial masyarakat yang lebih harmoni akan terwujud yang dengan demikian maka kemungkinan terjadi ketegangan sosial sedikit banyak akan menjadi terkurangi.   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA