Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Benarkah Sudah Aman Lepas Masker Sekarang?

Selasa 24 May 2022 09:24 WIB

Red: Joko Sadewo

Spanduk himbauan waspada terhadap Covid-19 dan Hepatitis terpasang di depan Madrasah Muallimat, Yogyakarta, Jumat (20/5/2022). Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meminta warga untuk tetap menggunakan masker meskipun di area terbuka. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjangkit hepatitis akut yang menyerang anak-anak seperti yang sudah terjadi di DKI Jakarta.

Spanduk himbauan waspada terhadap Covid-19 dan Hepatitis terpasang di depan Madrasah Muallimat, Yogyakarta, Jumat (20/5/2022). Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meminta warga untuk tetap menggunakan masker meskipun di area terbuka. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjangkit hepatitis akut yang menyerang anak-anak seperti yang sudah terjadi di DKI Jakarta.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Sejumlah penyakit baru mematikan muncul saat kebijakan masker dilonggarkan.

Oleh : Gita Amanda, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan terbaru, yang membawa angin segar terkait akhir dari Pandemi Covid-19, yakni memperbolehkan masyarakat melepas masker di area publik terbuka. Tentunya kebijakan ini disertai syarat, boleh melepas masker asal di ruang terbuka dan tak padat orang.

Pemerintah mengambil keputusan tersebut dengan pertimbangan, kasus Covid-19 di Tanah Air sudah tak lagi menunjukkan peningkatan signifikan yang juga dibarengi dengan semakin banyaknya masyarakat yang telah divaksinasi. Bahkan, kini Indonesia sudah masuk babak baru transisi pandemi menuju endemi Covid-19.

Namun, berita menggembirakan tersebut juga hadir dibarengi dengan sejumlah penyakit-penyakit "baru" lain, yang justru mulai hadir di dalam negeri. Pertama, kebijakan lepas masker bersamaan dengan berita mengenai kasus hepatitis akut misterius yang mulai masuk ke Indonesia.

Baca juga : Begini Kebijakan Pelonggaran Masker Saat PPKM yang Diatur Inmendagri

Hepatitis yang umumnya menyerang anak-anak ini, masih belum diketahui penyebabnya. Namun, disebut-sebut penyakit tersebut juga dapat menyebar melalui udara. Hepatitis sebenarnya bukan penyakit yang penyebarnnya mudah tak seperti flu, tapi untuk kasus hepatitis misterius ini tingkat kenaikan kasusnya cukup cepat.

Lalu ada lagi monkeypox atau cacar monyet. Meski Kementerian Kesehatan RI menegaskan cacar monyet belum menyebar di Indonesia, namun penyakit ini tentu harus juga diwaspadai.

Cacar monyet pada dasarnya merupakan penyakit zoonosis atau yang ditularkan melalui binatang. Sebenarnya ini termasuk virus ringan dan, dulu umumnya, hanya terjadi di Afrika.

Tapi belakangan, ada peningkatan kasus yang mengkhawatirkan terkait virus ini di Eropa. WHO menyatakan, bahkan banyak kasus cacar monyet ditularkan di Eropa tanpa ada riwayat perjalanan dari Afrika. Lagi-lagi sampai detik ini masih dicari tahu apa penyebab kasus cacar monyet meningkat di Eropa.

Baca juga : Biden: Cacar Monyet Tidak Sama Tingkat Kekhawatirannya dengan Covid-19

Penularan cacar monyet ini terjadi dari hewan ke manusia. Pada dasarnya penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Tapi virus monkeyox juga memungkinkan menyebar melalui saluran pernapasan.

Kemudian yang terbaru ada virus hendra. Virus ini diketahui berasal dari Australia yang dibawa oleh flying fox atau sejenis kelelawar dan menulari kuda. Tak hanya kuda, virus ini juga bisa menyerang manusia dan sangat mematikan. Sekali lagi, virus ini juga belum ditemukan di Tanah Air, tapi diharapkan pemerintah sudah melakukan pencegahan dini sebab Australia merupakan negara tetangga Indonesia.

Kedua penyakit terakhir memang terkait dengan hewan, satu dengan monyet dan satunya lagi dengan kuda. Sementara itu di dalam negeri, Penyakit mulu dan kuku pada hewan ternak sapi dan kambing/domba sedang mewabah. Meski belum ada penularan langsung ke manusia tentu ini juga harus diwaspadai.

Kementerian Pertanian menyatakan terus melakukan penanganan dan antisipasi agar PMK tidak semakin menyebar luas. Meski terakhir diketahui, dari semula enam daerah kini ternak di 52 daerah di Indonesia terjangkit PMK. Yang menjadi kekhawatiran tentu jika ada efek dari konsumsi daging hewan terinfeksi PMK ini pada manusia. Meski sejumlah ahli mengatakan, sejauh ini daging ternak masih aman dikonsumsi asal diolah dengan baik dan benar.

Baca juga : Inggris Terapkan Karantina 21 Hari Penderita Cacar Monyet

Jadi saat ini yang bisa kita lakukan tentu menjaga agar virus-virus tersebut tak menyerang dan menjadi pandemi seperti Covid-19. Kebiasaan baik protokol kesehatan yang selama ini kita terapkan selama pandemi tentu ada baiknya terus dilakukan.

Jika selama pandemi kita sudah menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik seperti mencucui tangan, menjaga jarak, memakai masker di kerumunan, makan makanan bergizi dan menjaga kebersihan. Ada baiknya kebiaasaan tersebut terus diterapkan. Sebab dengan menjaga kebersihan dan kesehatan khususnya dimulai dari diri dan keluarga terdekat, diharapkan dapat menjaga agar virus-virus penyakit mematikan di luar sana, tak berkembang biak dengan luas seperti saat Covid-19 melanda.

Jadi bagaimana? Apa akan tetap mengenakan masker atau melepasnya? Tentu sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jangan sampai kebijakan boleh melepas masker, menjadikan kita lengah dan melupakan kebiasaan baik yang sudah kita lakukan selama ini. Yang terpenting jangan lupa menjaga kesehatan diri.

Baca juga : WHO: Pandemi Belum Berakhir, Masih Ada Risiko

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA