Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Diplomat Rusia di PBB Mengundurkan Diri

Selasa 24 May 2022 07:25 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Seorang diplomat Rusia untuk PBB di Jenewa, Boris Bondarev mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas perang Kremlin melawan Ukraina.

Seorang diplomat Rusia untuk PBB di Jenewa, Boris Bondarev mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas perang Kremlin melawan Ukraina.

Foto: AP/Patrick Semansky
Diplomat Rusia untuk PBB mengundurkan diri dan merasa malu atas perang di Ukraina

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Seorang diplomat Rusia untuk PBB di Jenewa, Boris Bondarev mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas perang Kremlin melawan Ukraina. Dia mengutuk perang agresif yang dilancarkan oleh Presiden Vladimir Putin dan merasa “malu” terhadap negaranya.

Bondarev menyampaikan pengunduran dirinya dalam sebuah surat kepada misi diplomatik Rusia di PBB. Pemantau PBB yang berbasis di Jenewa atau UN Watch, membagikan isi surat tersebut.

"Selama dua puluh tahun karir diplomatik saya, saya telah melihat perubahan yang berbeda dari kebijakan luar negeri kami, tetapi saya tidak pernah merasa malu dengan negara saya seperti pada 24 Februari tahun ini," ujar Bondarev, dilansir Alarabiya, Selasa (24/5/2022).

Pengunduran diri itu adalah pengakuan publik yang sangat jarang di kalangan diplomat Rusia yang menentang perang di Ukraina. Pengunduran diri Bondarev terjadi pada saat kampanye disinformasi Kremlin paling aktif, di tengah tindakan keras terhadap protes apa pun atas invasi.

“Perang agresif yang dilancarkan oleh Putin melawan Ukraina, sebenarnya melawan seluruh dunia Barat, bukan hanya kejahatan terhadap rakyat Ukraina, tetapi juga mungkin, kejahatan paling serius terhadap rakyat Rusia," kata Bondarev.

Bondarev mengatakan, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebarkan penghasutan perang, kebohongan dan kebencian. “Rusia tidak lagi memiliki sekutu, dan tidak ada yang bisa disalahkan selain kebijakannya yang sembrono dan tidak dipahami dengan baik," ujarnya.

Rusia telah melancarkan serangan yang disebut sebagai operasi militer khusus ke Ukraina pada 24 Februari. Serangan tersebut telah membuat Barat geram dan menjatuhkan sanksi kepada Rusia. Barat mengisolasi Rusia sebagai bentuk  hukuman. Sementara perusahaan swasta menangguhkan operasi atau menghentikan investasi di Rusia. 

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA