Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Teleskop Hubble Menemukan 'Sesuatu yang Aneh' di Alam Semesta

Selasa 24 May 2022 05:28 WIB

Rep: mgrol136/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi alam semesta.

Ilustrasi alam semesta.

Foto: pixabay
Data teleskop Hubble menunjukkan ekspansi alam semesta yang aneh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para astronom telah lama terpikat oleh tingkat di mana alam semesta mengembang. Teleskop Luar Angkasa Hubble, salah satu observatorium berbasis ruang angkasa yang paling kuat telah membantu ilmuwan memecahkan teka-teki kosmik.

Teleskop telah mengambil sekitar 1,3 miliar gambar dalam 30 tahun hidupnya. Sekarang teleskop berkonsentrasi pada misi yang lebih sulit yakni menentukan seberapa cepat kosmos berkembang. 

Baca Juga

Dilansir dari NASA, penemuan sejauh ini menunjukkan bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di alam semesta. Para ilmuwan sekarang dapat menganalisis perluasan kosmos jauh lebih tepat berkat perkembangan teknologi. 

Dari data itu, ilmuwan sepertinya terdapat ketidaksesuaian. Badan Antariksa Amerika (NASA) menemukan ketidaksesuaian antara laju perluasan kosmos dengan data yang dibuat setelah Big Bang, yang menyiratkan "sesuatu yang aneh" sedang terjadi.

“Penyebab perbedaan ini tetap menjadi misteri. Tetapi data Hubble, yang mencakup berbagai objek kosmik yang berfungsi sebagai penanda jarak, mendukung gagasan bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi, mungkin melibatkan fisika baru,” kata NASA.

Mereka sedang melihat data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble pada satu set "tonggak sejarah" dalam ruang dan waktu yang dapat digunakan untuk melacak tingkat ekspansi alam semesta. Sejak debutnya pada tahun 1990, NASA mengklaim teleskop telah mengkalibrasi lebih dari 40 "penanda milepost."

"Anda mendapatkan ukuran paling tepat dari tingkat ekspansi alam semesta dari standar emas teleskop dan penanda jarak kosmik," kata peraih Nobel Adam Riess dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, dan Space Telescope Science Institute.

Pengukuran tentang ekspansi alam semsta dan energi gelap telah dimulai oleh ilmuwan Edwin P. Hubble dan Georges Lemaitre pada 1920-an melalui penemuan 'energi gelap' pada 1990-an. Menurut Hubble, galaksi-galaksi di luar Bima Sakti tampaknya bermigrasi menjauh darinya.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa semakin jauh mereka dari galaksi Bumi, semakin cepat mereka menjauh. Para ilmuwan telah mencoba untuk mengukur ekspansi ini sejak saat itu.

Ketika teleskop mulai mengumpulkan data, terungkap bahwa tingkat ekspansi lebih cepat dari yang diharapkan oleh model, yaitu 67,5 kilometer per detik per megaparsec dibandingkan 73 km per detik yang diamati.

Kesenjangan ini memaksa para ilmuwan untuk mempertimbangkan kembali asumsi mereka dan memulai dari awal. Para ilmuwan sekarang menunggu data dari Teleskop Luar Angkasa James Webb yang baru, sehingga mereka dapat menyelidiki lebih banyak teka-teki ini.

Baca juga : Infografis Sagitarius A*, Lubang Hitam Supermasif Galaksi Bima Sakti.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA