Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Jerman Kecewa Uni Eropa Belum Embargo Minyak Rusia

Senin 23 May 2022 16:10 WIB

Red: Esthi Maharani

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck kecewa Uni Eropa belum sepakat untuk mengembargo minyak Rusia.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck kecewa Uni Eropa belum sepakat untuk mengembargo minyak Rusia.

Foto: AP/Dmitry Lovetsky
Jerman kecewa Uni Eropa belum sepakat embargo minyak Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck kecewa Uni Eropa belum sepakat untuk mengembargo minyak Rusia. Dalam sebuah wawancara radio ia mengatakan Jerman bersedia mengorbankan partisipasi Hungaria demi mempercepat proses pelarangan.

"Bila presiden Komisi (Eropa) mengatakan kami akan melakukannya dengan 26 negara tanpa Hungaria, maka itu jalur yang selalu saya dukung, tapi saya belum mendengar itu dari Uni Eropa," kata Habeck pada stasiun radio Deutschlandfunk, Senin (13/5/2022).

Baca Juga

Wawancara ini dilakukan menjelang pertemuan pemimpin industri dan politik di World Economic Forum di Davos, Swiss. Hungaria merupakan negara yang paling vokal menentang embargo minyak Rusia di antara 27 negara anggota Uni Eropa.

Sementara Jerman sangat aktif dalam mengadvokasi sanksi tambahan ke Rusia atas invasinya ke Ukraina. Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman Handelsblatt dan tiga koran Eropa lainnya pekan lalu Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan Jerman terbuka dengan gagasan membekukan aset pemerintah Rusia untuk membangun kembali Ukraina.

"Secara politis saya terbuka pada gagasan membekukan aset asing Bank Sentral Rusia," kata Lindner, Selasa (17/5/2022) pekan lalu.

Ia menambahkan proposal mengenai dampak langkah itu sudah dibahas negara-negara kaya yang tergabung Group of Seven (G7) dan Uni Eropa. "Dalam kasus aset privat, kami harus melihat kemungkinan hukumnya," kata Lindner.

"Kami harus menghormati supremasi hukum bahkan bila kami menghadapi oligarki Rusia," tambahnya.  

Mengenai kebijakan fiskal Uni Eropa, Lindner mengindikasi ia dapat terbuka untuk mengkompromikan peraturan utang Uni Eropa di masa depan.

Walaupun ia tidak dapat mendukung reformasi dengan melunakkan kriteria Maastricht yang menjadi tulang punggung peraturan fiskal Uni Eropa. "(Tapi) peraturan fiskal dapat lebih realistis dan efektif," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA