Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Belgia Jadi Negara Pertama yang Terapkan Karantina 21 Hari untuk Penderita Cacar Monyet

Senin 23 May 2022 14:31 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

 Foto dari mikroskop elektron yang dipasok Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada 2003 memperlihatkan virus monkeypox penyebab cacar monyet. Belgia menerapkan aturan karantina 21 hari untuk penderita cacar monyet.

Foto dari mikroskop elektron yang dipasok Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada 2003 memperlihatkan virus monkeypox penyebab cacar monyet. Belgia menerapkan aturan karantina 21 hari untuk penderita cacar monyet.

Foto: Cynthia S. Goldsmith, Russell Regner/CDC via
Belgia telah mengidentifikasi tiga kasus cacar monyet terkait Darklands Festival.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belgia menjadi negara pertama yang memberlakukan karantina untuk kasus cacar monyet. Peraturan ini diterapkan setelah Belgia mengidentifikasi tiga kasus cacar monyet yang berkaitan dengan penyelenggaraan Darklands Festival.

Darklands Festival merupakan sebuah acara yang mendorong para pengunjungnya untuk mengeksplorasi seksualitas mereka dan mengembangkan minat terhadap beragam fetish secara aman. Festival ini berlangsung selama empat hari di Antwerp.

Baca Juga

"Hal yang beralasan untuk mengasumsikan bahwa virus (monkeypox) dibawa oleh pengunjung dari luar negeri ke festival," ungkap tim penyelenggara, seperti dilansir The Sun, Senin (23/5/2022).

Berdasarkan aturan baru yang diterapkan, warga Belgia yang terkena cacar monyet wajib menjalani karantina. Karantina ini harus dilakukan selama 21 hari.

Bila mengenai orang dewasa, virus monkeypox biasanya menyebabkan penyakit cacar monyet yang relatif ringan. Namun, masalah ini tetap perlu diwaspadai karena penyakit cacar monyet bisa menjadi lebih berat bila mengenai individu dewasa dengan kondisi tertentu dan anak-anak. Seorang anak di Inggris bahkan harus menjalani perawatan di ruang intensif setelah terinfeksi virus monkeypox.

"Individu tertentu lebih berisiko mengalami sakit berat, termasuk individu dengan gangguan imun dan anak kecil," jelas dr Susan Hopkins.

Penyakit cacar monyet sebenarnya bukan penyakit yang baru. Akan tetapi, dr Hopkins menilai, kasus cacar monyet yang terjadi saat ini berbeda dibandingkan kasus-kasus sebelumnya.

"Kita perlu mempelajari banyak hal mengenai penyakit ini dalam beberapa pekan ke depan," kata dr Hopkins.

Per Jumat lalu, ada 20 kasus cacar monyet yang telah terdeteksi di Inggris. Beberapa negara lain, seperti Spanyol, Portugal, dan Afrika Tengah juga turut melaporkan adanya wabah cacar monyet.

Di Spanyol, misalnya, ada 23 kasus cacar monyet yang berhasil terdeteksi per Jumat lalu. Sebagian besar dari kasus ini berkaitan dengan sebuah sauna yang terletak di Madrid.

Sebagian kasus cacar monyet di Spanyol dan Italia juga berkaitan dengan penyelenggaraan festival gay The Canaria Pride. Festival besar ini dihadiri oleh lebih dari 80 ribu orang, termasuk tiga pria dewasa asal Italia yang terinfeksi oleh virus monkeypox.

Terlepas dari bermunculannya kasus-kasus cacar monyet, dr Hopkins mengatakan risiko populasi umum untuk tertular cacar monyet sangat rendah. Di saat yang sama, dr Hopkins mengatakan masyarakat dan para tenaga kesehatan tetap harus waspada.

Dr Hopkins menganjurkan agar orang-orang yang merasa sakit untuk berdiam diri di rumah saja. Bila muncul bintil-bintil merah di kulit, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA