Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

WHO Bahas Persiapan Pandemi di Masa Depan

Senin 23 May 2022 08:27 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nora Azizah

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus akan menjadi tuan rumah bagi hampir 200 negara anggota di majelis tahunan badan PBB pekan ini.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus akan menjadi tuan rumah bagi hampir 200 negara anggota di majelis tahunan badan PBB pekan ini.

Foto: AP/Denis Balibouse/Reuters Pool
WHO juga membahas keamanan kesehatan global di masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus akan menjadi tuan rumah bagi hampir 200 negara anggota di majelis tahunan badan PBB pekan ini. Dalam pertemuan itu akan dipandu sebuah pendoman buku berwarna putih untuk membahas keamanan kesehatan global di masa depan, termasuk pandemi.

Dalam buku putih itu, Tedros memulai dengan mengutip sejarawan Yunani kuno Thucydides. Dia ingin dunia belajar dari kesalahan wabah yang menghancurkan di Athena pada 430 SM. Hampir dua setengah milenium kemudian dan setelah Covid-19 telah menewaskan sedikitnya 15 juta orang di seluruh dunia, menghindari terulangnya kesalahan langkah fatal dalam pandemi masa depan adalah tema tidak tertulis dari Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa.

Baca Juga

Saat para delegasi bertemu, Covid-19 masih mengamuk. Negara-negara semakin terpolarisasi dari sebelumnya tentang cara terbaik untuk memerangi krisis kesehatan terbesar di dunia dalam satu abad ini. Upaya untuk memvaksinasi dunia pun masih belum lengkap.

Buku putih Tedros yang akan dibahas di majelis membayangkan masa depan WHO yang diperkuat di pusat kesiapsiagaan darurat kesehatan. Sebagian dari rencananya telah dilihat oleh pengamat WHO sebagai perebutan kekuasaan, termasuk proposal untuk membentuk dewan darurat kesehatan global yang terkait dan selaras dengan badan tersebut. Para ahli eksternal tingkat tinggi malah menyarankan bahwa badan jenis ini harus independen dan pada tingkat pemimpin dunia.

Proposal alternatif oleh G20 untuk dana pandemi hingga 50 miliar dolar AS pada awalnya dipandang sebagai saingan potensial bagi WHO. Sekarang WHO berusaha untuk memainkan peran dalam dana yang diusulkan, mungkin melalui kursi dewan yang berarti secara teoritis dapat hidup berdampingan dengan dana yang menyalurkan uangnya melalui WHO.

Hasil terbesar dari majelis itu sendiri diharapkan menjadi kesepakatan pendanaan yang dipandang perlu untuk memastikan kelangsungan hidup WHO. Kesepakatan yang ditetapkan untuk disetujui oleh anggota yang akan membantu mengurangi ketergantungannya pada sumbangan dengan ikatan.

WHO saat ini didanai sebagian besar oleh kontribusi sukarela dari pemerintah dan donor swasta. Cara tersebut, menurut badan PBB dan panel ahli independen, tidak berkelanjutan karena organisasi menghadapi tantangan baru, termasuk risiko pandemi yang lebih tinggi serta masalah kesehatan lainnya, mulai dari menyusui hingga Ebola.

Kesepakatan yang akan menaikkan biaya wajib bagi negara-negara anggota dan mengurangi ketergantungannya pada sumbangan kemungkinan akan disetujui. Hasil itu adalah langkah pertama yang penting dalam menempatkan dunia di tempat yang lebih baik untuk ancaman baru. Namun pengamat menilai,  lebih banyak yang harus dilakukan.

"Penguatan WHO sangat penting tetapi tidak cukup untuk mencegah, mempersiapkan dan menanggapi pandemi lain," kata pendiri Pandemic Action Network Carolyn Reynolds, mengutip reuters, Senin (23/5/2022).

Ketua bersama Panel Independen untuk Kesiapsiagaan dan Respons Pandemi, badan yang dibentuk oleh WHO untuk meninjau respons global terhadap Covid, Helen Clark, menyatakan, ingin tidak hanya WHO tetapi dunia untuk belajar dan cepat bertindak. "Semuanya ada di tangan kemudi," ujarnya.

Pekan lalu, panel WHO merilis sebuah laporan yang memperingatkan bahwa meskipun ada beberapa kemajuan, dunia tidak lebih siap menghadapi ancaman kesehatan baru daripada ketika virus korona muncul pada 2019. Bahkan dunia mungkin berada di tempat yang lebih buruk karena korban ekonomi pandemi.

Menurut laporan tersebut, reformasi sangat mendesak. Dunia membutuhkan WHO yang diperkuat dan kesiapsiagaan yang lebih baik secara menyeluruh. Profesor di Georgetown Law di Washington Lawrence Gostin mengatakan, WHO memiliki kesempatan untuk menegaskan kembali dirinya setelah beberapa tahun yang sulit.

"Ini tidak akan pernah sama, pemimpin kesehatan global tunggal yang tak tertandingi seperti dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, tetapi saya pikir itu bisa mendapatkan kembali status dan otoritasnya di tengah abu pandemi ini," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA