Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Rusia Setop Pasokan Gas ke Finlandia

Ahad 22 May 2022 16:05 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Perusahaan gas Rusia, Gazprom, telah menghentikan ekspor gas ke Finlandia. Langkah itu diambil setelah Helsinki menolak melakukan pembelian menggunakan mata uang Rusia, rubel.

Perusahaan gas Rusia, Gazprom, telah menghentikan ekspor gas ke Finlandia. Langkah itu diambil setelah Helsinki menolak melakukan pembelian menggunakan mata uang Rusia, rubel.

Foto: AP Photo/Dmitri Lovetsky
Finlandia menolak melakukan pembelian gas menggunakan mata uang Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, HELSINKI -- Perusahaan gas Rusia, Gazprom, telah menghentikan ekspor gas ke Finlandia. Langkah itu diambil setelah Helsinki menolak melakukan pembelian menggunakan mata uang Rusia, rubel.

“Impor gas melalui pintu masuk Imatra telah dihentikan,” kata operator sistem gas Finlandia, Gasgrid Finland, dalam sebuah pernyataan, Sabtu (21/5). Imatra adalah pintu masuk gas Rusia ke Finlandia.

Baca Juga

Perusahaan gas milik pemerintah Finlandia, Gasum, turut mengonfirmasi penghentian pasokan oleh Gazprom. "Suplai gas alam ke Finlandia di bawah kontrak pasokan Gasum telah terputus. Mulai hari ini, selama musim panas mendatang, Gasum akan memasok gas alam ke pelanggannya dari sumber lain melalui pipa Balticconnector," ungkap Gasum dalam sebuah pernyataan.

Balticconnector menghubungkan Finlandia ke jaringan gas tetangga Estonia. Pada Jumat (20/5) lalu, Gazprom mengungkapkan, aliran gas ke Gasum akan dipangkas. Hal itu karena Gasum tak mematuhi aturan baru pembelian yang diharuskan menggunakan mata uang Rusia, rubel.

Merespons situasi itu, Finlandia telah mengatakan, mereka akan menyewa kapal penyimpanan dan regasifikasi dari Excelerate Energy yang berbasis di Amerika Serikat (AS) guna membantu menggantikan pasokan gas Rusia mulai kuartal keempat tahun ini. Mayoritas gas yang digunakan di Finlandia berasal dari Rusia. Namun gas hanya menyumbang sekitar lima persen dari konsumsi energi tahunan negara tersebut.

Pada 18 Mei lalu, Finlandia dan Swedia resmi mengajukan keanggotaan ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Langkah kedua negara itu dinilai sebagai efek dari invasi Rusia ke Ukraina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA