Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Kasus Amber Heard Vs Johnny Depp Dinilai Rugikan Penderita Borderline Personality Disorder

Ahad 22 May 2022 13:04 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Aktris Amber Heard  menghadiri persidangan pencemaran nama baik yang diajukan mantan suaminya,  aktor Johnny Depp, di Fairfax County Circuit Courthouse di Fairfax, Virginia, AS, 16 Mei 2022. Pernyataan saksi ahli yang mengaitkan diagnosis Heard mengenai borderline personality disorder dengan dugaan perilaku kasar dinilai dapat semakin memperburuk stigma terhadap penderitanya.

Aktris Amber Heard menghadiri persidangan pencemaran nama baik yang diajukan mantan suaminya, aktor Johnny Depp, di Fairfax County Circuit Courthouse di Fairfax, Virginia, AS, 16 Mei 2022. Pernyataan saksi ahli yang mengaitkan diagnosis Heard mengenai borderline personality disorder dengan dugaan perilaku kasar dinilai dapat semakin memperburuk stigma terhadap penderitanya.

Foto: EPA-EFE/Steve Helber / POOL
Amber Heard disebut idap borderline personality disorder.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persidangan kasus defamasi yang melibatkan mantan pasangan selebritas Amber Heard dan Johnny Depp terus-menerus menjadi perbincangan hangat di internet. Salah satu hal yang banyak dibicarakan adalah terkait pernyataan saksi ahli yang menyebutkan bahwa Heard mengidap gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD).

Selama persidangan berlangsung, Heard kerap mendapatkan penilaian yang negatif dari warganet. Pernyataan saksi ahli yang mengaitkan diagnosis BPD dengan Heard dinilai sebagian orang dapat semakin memperburuk stigma terhadap penderita BPD.

Baca Juga

"Saya tahu kombinasi ini akan menyebabkan BPD dikaitkan dengan perilaku menyiksa, mengingat ini pertama kalinya banyak orang mendengar soal BPD," jelas penulis Bethany Purves, seperti dilansir Huffington Post.

BPD merupakan gangguan kejiwaan yang memengaruhi bagaimana seseorang merasa atau melihat dirinya sendiri. Menurut psikiater klinis dan forensik Ziv Cohen dari Principium Psychiatry, penderita BPD cenderung melihat dunia dalam sudut pandang yang ekstrem, seperti semuanya baik atau semuanya buruk.

Di samping itu, penderita BPD biasanya merasakan ketakutan akan diabaikan atau ditinggalkan. Kekhawatiran ini bahkan bisa muncul meski tak ada bukti yang mendukung kekhawatiran tersebut.

"Ini dapat menciptakan kekacauan dalam hubungan pribadi (penderita dengan pasangan)," ungkap Cohen.

Penderita BPD juga sering merasakan kekosongan, berperilaku impulsif, dan berisiko untuk mengalami gangguan lain seperti gangguan suasana hati. Perilaku impulsif dan panik yang ditunjukkan oleh penderita BPD kerap memicu keretakan dalam hubungan.

Meski memiliki aspek-aspek negatif, BPD juga memiliki aspek yang berpotensi positif. Misalnya, bila penderita BPD bisa menyalurkan emosi intens mereka ke dalam kreativitas dan empati.

"Beberapa studi telah menunjukkan bahwa orang-orang dengan BPD memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menjadi perseptif dan membaca emosi orang lain," ungkap psikolog yang memiliki spesialisasi di depresi, kecemasan, trauma, dan BPD, Lauren Kerwin.

Akan tetapi, sisi negatif BPD jauh lebih sering mendapatkan perhatian di media sosial. Tak jarang penderita BPD, termasuk Heard, dianggap sebagai orang yang toksik, manipulatif, atau berperilaku kasar.

"Saya khawatir BPD akan menjadi istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang kasar," lanjut Purves.

Warganet Jenni Elyse juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa siaran persidangan kasus defamasi Heard-Depp akan memperburuk stigma mengenai penderita BPD. Elyse berharap diskusi mengenai BPD bisa lebih banyak dilakukan agar orang-orang bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai gangguan kepribadian tersebut.

"Cara untuk melawan stigma adalah membantu orang-orang memahami seperti apa (BPD) itu sebenarnya dan bagaimana cara mengobatinya," ungkap Elyse.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA