Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Pendiri Ethereum Akui Bukan Lagi Miliarder

Ahad 22 May 2022 01:08 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Nidia Zuraya

Ethereum

Ethereum

Foto: Pixabay
Harga token Ether yang terkait dengan blockchain turun drastis sebesar 55 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Pendiri mata uang kripto Ethereum, Vitalik Buterin, adalah korban terbaru dalam keruntuhan dramatis kekayaan crypto. Ia mengaku bukan miliarder lagi.

“Saya bukan miliarder lagi,” katanya dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (21/5/2022).

Ia menciptakan Ethereum pada tahun 2014 dan merupakan pemilik dompet digital yang baru-baru ini pada November berisi kepemilikan senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS. Sejak saat itu, harga token Ether yang terkait dengan blockchain telah turun drastis sebesar 55 persen.

Ia pernah mengungkapkan bahwa harga koin digital akan lebih rendah pada Februari lalu. "Orang-orang yang mendalami kripto dan terutama membangun sesuatu banyak dari mereka menyambut kejatuhan pasar," kata dia.

Ketika pandemi berkecamuk di India tahun lalu, Vitalik menyumbangkan lebih dari 50 triliun koin Shiba Inu untuk dana bantuan Covid-19 di negara itu. Koin Shiba Inu yang merupakan lelucon meta tentang koin digital bertema anjing Dogecoin, akan bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS pada saat itu.

Sumbangan Vitalik mewakili lebih dari 5 persen dari total koin Shiba Inu yang beredar dan membuat harga jatuh sekitar 50 persen. Ia juga berbicara tentang pertukaran antara pikiran terbuka dan gairah sambil menyatakan dukungan untuk blockchain yang dia bantu buat.

"Catatan untuk troll: tidak, ethereum bukanlah kesalahan," kata dia.

Diketahui, kepemilikan aset kripto telah terpukul oleh penurunan tajam dalam harga mata uang digital dan gejolak yang melanda stablecoin algoritmik TerraUSD dan token Luna-nya.  

Pendiri bursa mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, Changpeng Zhao telah menyaksikan lebih dari 80 miliar dolar AS atau 84 persen dari kekayaannya menguap tahun ini.

Beberapa pendukung kripto yang sangat kaya telah menyatakan kerendahan hati di tengah pergolakan.  Michael Novogratz, pendiri bank dagang kripto Galaxy Inc., mengakui bahwa TerraUSD adalah ide besar yang gagal. 

Sementara miliarder kembar Cameron dan Tyler Winklevoss, bersikeras bahwa investasi mereka di aset kripto bersifat jangka panjang.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA