Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Jepang Protes Pembangunan Beijing di Laut China Timur

Sabtu 21 May 2022 16:46 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Dalam foto yang dirilis 31 Desember 2021 oleh Kantor Berita Xinhua, foto tak bertanggal menunjukkan jet tempur J-15 berbasis kapal induk bersiap untuk mendarat di kapal induk Liaoning angkatan laut China selama pelatihan tempur laut terbuka.

Dalam foto yang dirilis 31 Desember 2021 oleh Kantor Berita Xinhua, foto tak bertanggal menunjukkan jet tempur J-15 berbasis kapal induk bersiap untuk mendarat di kapal induk Liaoning angkatan laut China selama pelatihan tempur laut terbuka.

Foto: Hu Shanmin/Xinhua via AP
China meningkatkan pembangunan di sumber daya alam di Laut China Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan ia kecewa dengan pembangunan China di perairan Laut China Timur. Ia mengatakan langkah Beijing tersebut tidak dapat "diterima."

Di depan wartawan, Sabtu (21/5/2022) di Kyoto, Kishida mengatakan pemerintahnya sudah mengirimkan protes pada China melalui jalur diplomatik.

Baca Juga

Pada Jumat (20/5/2022) kemarin Kementerian Luar Negeri Jepang merilis pernyataan yang mengkonfirmasi China meningkatkan pembangunan di sumber daya alam di Laut China Timur. Termasuk wilayah di bagian barat yang menjadi titik tengah antara Jepang dan China.

Pulau-pulau kecil di Laut China Timur merupakan salah satu sumber ketegangan antara perekonomian terbesar kedua dan ketiga dunia. China mengklaim kepulauan yang dikuasai Jepang tersebut.

Nikkei Asia melaporkan pada 2008 Jepang dan China sepakat untuk mengembangkan sumber daya gas di perairan Laut China Timur. Tapi negosiasi kesepakatan tersebut terhenti pada tahun 2010.

Tokyo mengetahui China membangun berbagai fasilitas gas di 17 lokasi dekat garis tengah perbatasan laut kedua negara. Melalui undang-undang domestiknya Jepang menganggap garis itu merupakan garis demarkasi antara dua negara.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA