Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Membedah Karakter Manusia Merujuk Pembagian Air Menurut Fikih Islam

Sabtu 21 May 2022 10:20 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi berwudhu menggunakan air. Karakter manusia bisa dikonotasikan dengan macam-macam air menurut fikih Islam

Karakter manusia bisa dikonotasikan dengan macam-macam air menurut fikih Islam

Kecenderungan sifat manusia seperti ini tidak saja memikirkan keselamatan atau kesejahteraan dirinya, tetapi juga orang lain di sekitarnya. Ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

 ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim) 

B. Karakter manusia yang kedua mereka adalah orang baik (suci) dan bisa mengajak orang lain dalam kebaikan (mensucikan). Tetapi dalam cara mengajak orang lain, mereka tidak dibekali dengan ilmu, wawasan dan pemahaman yang benar. 

Pada karakter manusia yang kedua ini, adakalanya (1) terlalu kaku dalam berdakwah dan jumud (beku) dalam berpikir. 

Atau sebaliknya, (2) terlalu bebas dalam berpikir dan menafsir sehingga melabrak pakem kebenaran yang digariskan. 

Orang yang memiliki karakter seperti ini, akibat dipengaruhi oleh pemikiran orang lain, buku bacaan atau lingkungan pendidikan yang serba terlalu, baik terlalu kaku ataupun terlalu bebas, sebagaimana panasnya air yang dipengaruhi terik matahari. 

Kecenderungan  kelompok yang 'terlalu' ini biasanya sering menyalahkan orang lain tanpa diawali dengan konfirmasi dan diskusi. Atau mudah membenarkan apa saja sesuai alur pikiran dan seleranya tanpa melakukan pendalaman referensi. 

Keduanya, baik ekstrem kanan yang jumud atau tekstualis dalam memahami agama (literal), atau ekstrem kiri yang menafsiri agama dengan bebas (liberal) sama-sama tidak baik untuk dipakai apalagi diikuti. Dalam istilah fikih yaitu makrûhun isti'maluhu (tidak layak digunakan). 

Pemahaman yang benar dan banyak diikuti (sawâdul a'zham) adalah kelompok yang berkarakter wasathiyyah atau moderat. Kelompok dengan pemahaman yang bersumber pada teks-teks Alquran dan hadits dengan tidak mengesampingkan konteks, menggabungkan dalil 'aqliy (argumentasi rasional) dan dalil naqliy (argumentasi tekstual).

Kelompok tengah ini menjadi sumber inspirasi pemahaman Ahlus Sunah wal Jama'ah (Aswaja) terhadap agama.  

Pemahaman wasathiyyatul Islâm (moderasi dalam Islam) ini didasari  firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan yang demikian ini Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (QS Al Baqarah ayat 143) 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA