Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Bertemu Presiden Korsel, Biden Bahas Korut

Sabtu 21 May 2022 10:06 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Agung Sasongko

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden membahas kerja sama nuklir dan ancaman Korea Utara (Korut) saat bertemu Presiden Korsel Yoon Suk-yeol. Biden melakukan kunjungan bilateral pertamanya pada Sabtu (21/5/2022).

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden membahas kerja sama nuklir dan ancaman Korea Utara (Korut) saat bertemu Presiden Korsel Yoon Suk-yeol. Biden melakukan kunjungan bilateral pertamanya pada Sabtu (21/5/2022).

Foto: (AP Photo/Evan Vucci)
Biden membahas kerja sama nuklir dan ancaman Korut saat bertemu Presiden Korsel.

REPUBLIKA.CO.ID,  SEOUL -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden membahas kerja sama nuklir dan ancaman Korea Utara (Korut) saat bertemu Presiden Korsel Yoon Suk-yeol. Biden melakukan kunjungan bilateral pertamanya pada Sabtu (21/5/2022).

Pejabat senior pemerintah Biden mengatakan Washington setiap untuk berdiplomasi dengan Korut. AS juga siap bekerja kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan untuk membantu Korut dalam berbagai isu seperti pandemi Covid-19 "yang cukup berat."

Baca Juga

Pada Jumat (20/5/2022) kemarin Korut mengatakan telah berhasil mengatasi wabah Covid-19. Kantor berita Korut, KCNA melaporkan jumlah orang dengan gejala di negara yang terisolasi itu pada Kamis (19/5/2022) bertambah 263.370 orang.

Sehingga total kasus dengan gejala menjadi sekitar 2,24 juta termasuk 65 kasus kematian. KCNA tidak melaporkan berapa banyak kasus positif virus korona.

Walaupun angka kasus infeksi tinggi tapi Korut masih mengaku berhasil mengendalikan pandemi. Pyongyang juga berencana menggelar pemakaman kenegaraan bagi mantan jenderal.

"Bahkan dalam situasi prevensi epidemi darurat maksimal, produksi nomral di sektor-sektor kunci tetap normal dan proyek-proyek pembangunan skala besar didorong tanpa henti," kata KCNA.

"Hasil baik dilaporkan dengan stabil dalam perang anti-epidemi yang sedang berlangsung," tambahnya.

Dewan hak asasi manusia PBB memperingatkan tingginya angka kasus infeksi dan langkanya sumber medis dan vaksin maka konsekuensi pandemi Covid-19 bagi negara berpopulasi 25 juta orang itu akan "sangat menghancurkan". Organisasi Kesehatan Dunia khawatir penyebaran yang tidak diketahui dapat menimbulkan varian baru yang lebih mematikan. n Lintar Satria/Reuters  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA