Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Gaya Hidup Kita Masa Kini: Pakai Masker dan Cuci Tangan

Ahad 22 May 2022 12:45 WIB

Red: Joko Sadewo

Spanduk himbauan waspada terhadap Covid-19 dan Hepatitis terpasang di depan Madrasah Muallimat, Yogyakarta, Jumat (20/5/2022). Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meminta warga untuk tetap menggunakan masker meskipun di area terbuka. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjangkit hepatitis akut yang menyerang anak-anak seperti yang sudah terjadi di DKI Jakarta.

Spanduk himbauan waspada terhadap Covid-19 dan Hepatitis terpasang di depan Madrasah Muallimat, Yogyakarta, Jumat (20/5/2022). Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta meminta warga untuk tetap menggunakan masker meskipun di area terbuka. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjangkit hepatitis akut yang menyerang anak-anak seperti yang sudah terjadi di DKI Jakarta.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Bermasker, mencuci tangan, dan tidak bertukar alat makan harus jadi kebiasaan.

Oleh : Fuji Pratiwi, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Awal pekan ini, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan bolehnya masyarakat melepas masker di area terbuka yang tidak padat orang. Namun, Presiden meminta masyarakat tetap mengenakan masker jika berkegiatan di dalam ruangan dan di dalam kendaraan umum. Alhamdulillah..

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia dua tahun belakangan ini, memakai masker, menerapkan etika bersin dan batuk, serta membudayakan hidup bersih jadi hal yang amat lazim kita temukan. Bukan cuma di rumah dan lingkaran keluarga, tapi sampai ke level RT, RW, kota, bahkan satu negara.

Kesadaran memakai masker juga disebut sudah jadi gaya hidup. Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Syahril menilai, kini banyak masyarakat yang memakai masker menganggapnya jadi budaya atau gaya hidup. "Jadi, kalau tak pakai masker jadi tak percaya diri. Mereka disadarkan bahwa masker untuk proteksi diri sendiri maupun memproteksi orang lain," ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu (18/5/2022).

Baca juga : Virolog Nilai Kebijakan Pelonggaran Masker Sudah Tepat

Sebagai alumnus Covid-19 dan TB paru, saya amat bersyukur mendengar itu. Akan banyak penyakit pernapasan yang bisa dicegah dengan memakai masker di waktu dan tempat yang tepat.

Pada 2010, saya sempat terkena TB paru. Minum obat rutin selama enam bulan saya jalani sampai saya dinyatakan sembuh. Tentu saja, setelah sembuh, kondisi paru-paru saya tidak sesehat seperti sebelum terinfeksi bakteri tuberculolsis. Namun, saya bersyukur bisa sembuh dan tak ada keluhan berarti sampai hari ini.

Setelah tanya-tanya, saat itu, dokter menduga saya tertular TB lewat droplet di transportasi umum. Saat itu, saya pulang pergi kuliah naik KRL kelas kambing yang pintunya tak berfungsi. Tiap jam sibuk, penumpang berjejalan bahkan naik ke atap.

Boro-boro pakai masker, meludah, bersin, dan batuk, bebas saja di sana. Berkali-kali saya kena semprot cipratan orang bersin dan batuk tepat di belakang kepala kala itu. Apa itu etika bersih dan batuk? Orang-orang enggak kenal.

Baca juga : Belajar Sadar Saat yang Tepat Memakai dan Melepas Masker

Kena TB paru, ya sudah, saya terima saja dan menjalani pengobatan. Sambil pengobatan, dokter menyarankan saya untuk memakai masker saat naik kendaraan umum atau saat di tempat ramai. Sejak hari itu sampai sekarang, memakai masker di kendaraan umum (termasuk di pesawat) dan di jalan raya hampir selalu saya lakukan. Masker kain selalu ada di tas sejak saat itu.

Ini bukan sambat. Namun, TB bisa dicegah dengan kebiasaan sepele seperti memakai masker dan cuci tangan memakai sabun.

Kementerian Kesehatan menyatakan, dari data teranyar kasus TB menunjukkan sebanyak 301 kasus per 100 ribu penduduk. Saat ini  Indonesia berada di posisi ketiga kasus TB terbanyak tingkat global. Ya, KETIGA di level dunia.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terdapat 385.295 kasus TB yang ditemukan dan diobati di Indonesia sepanjang 2021. Jumlah tersebut turun 2,04 persen dari tahun sebelumnya. Pada 2020, tercatat jumlah kasus TB yang ditemukan dan diobati sebanyak 393.323 kasus.

Baca juga : Meski Dilonggarkan, Penumpang KA Tetap Wajib Pakai Masker Selama di Moda Transportasi

Dalam sepuluh tahun terakhir, tren kasus TB fluktuatif. Pada 2011, kasus TB yang ditemukan dan diobati sebanyak 321.308 kasus. Kemudian meningkat pada tiap tahun berikutnya hingga mencapai 570.289 kasus pada 2018. Kasus TB mulai menurun pada 2019 menjadi 568.997 kasus dan kembali merosot pada 2020 dan 2021.

Lalu pandemi Covid-19 menghantam Indonesia pada 2020. Belakangan, muncul juga kasus hepatitis akut yang belum diketahui sebabnya. Kita jadi sadar, bermasker, mencuci tangan, dan tidak bertukar alat makan harus jadi kebiasaan. Setidaknya, kita belajar bijak kapan waktu yang tepat untuk menerapkan dan tidak menerapkan semua itu.

Jadi, benarlah perkataan: di balik suatu kejadian, pasti ada apa-apanya :)

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA