Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Erick Thohir: Penambahan Subsidi Energi Bukti Upaya Negara tidak Ingin Membebani Rakyat

Jumat 20 May 2022 19:10 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyambut baik dukungan DPR RI terhadap usulan pemerintah melalui Menteri Keuangan terkait penambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (ilustrasi).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyambut baik dukungan DPR RI terhadap usulan pemerintah melalui Menteri Keuangan terkait penambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). (ilustrasi).

Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Persetujuan DPR memastikan BBM, LPG dan listrik yang disubsidi tidak naik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyambut baik dukungan DPR RI terhadap usulan pemerintah melalui Menteri Keuangan terkait penambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Erick, persetujuan DPR memastikan BBM, LPG dan listrik yang disubsidi tidak naik.

"Ini bukti negara hadir dan terus berupaya keras, karena tidak ingin membebani rakyat di tengah persoalan pangan dan energi global,” kata Erick saat kunjungan kerja di Medan, Sumatera Utara, Jumat (20/5/2022).

Baca Juga

Erick menyampaikan, Kementerian BUMN bersama Pertamina dan PLN akan fokus dalam menjaga ketersediaan energi dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Pernyataan ini menyusul persetujuan Badan Anggaran (Banggar) DPR terhadap  usulan pemerintah terkait penambahan subsidi energi pada APBN 2022 dalam Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan pada Kamis (19/5/2022) lalu.

Sebelumnya, Erick mengungkapkan, pemerintah belum memiliki rencana terkait penyesuaian harga BBM jenis Pertalite. Meski harga global telah melambung tinggi, namun pemerintah masih dapat menjaga harga Pertalite senilai Rp 7.650 per liter.

"Harga Pertalite sekarang berada di harga Rp 7.650, belum ada rencana pemerintah melakukan (penyesuaian)," kata Erick Thohir di Jakarta, Rabu (18/5/2022).

Erick Thohir mengatakan bila melihat harga BBM di luar negeri berbagai macam, ada yang Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu per liter. Tentu pemerintah, kata dia, mengambil posisi masyarakat yang mampu tidak boleh disubsidi, makanya harga Pertamax dinaikkan.

Harga Pertamax setelah dinaikkan pun, menurut dia, masih berada di bawah harga pasar, sehingga ada komponen subsidinya. "Saya sudah sampaikan tidak mungkin pemerintah dengan kondisi pangan dan energi seperti sekarang, pemerintah mendiamkan, tidak melakukan intervensi, tidak mungkin. pemerintah pastinya hadir. Tentu mekanisme kehadirannya melalui berbagai cara. Sebelumnya saat pandemi Covid-19 pemerintah menyediakan obat, vaksin gratis, dan sebagainya," kata Erick Thohir.

Sebelumnya kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina mengakibatkan Uni Eropa mempertimbangkan untuk melakukan embargo minyak mentah Rusia, sehingga hal itu berdampak pula terhadap harga BBM di dalam negeri.

Pada Maret 2022 realisasi Mean of Platts Singapore (MOPS) Pertalite rata-rata 128,19 dolar AS per barel atau naik 63 persen dari rata-rata tahun 2021 sebesar 78,48 dolar AS per barel.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA