Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

43,56 Juta Penduduk Indonesia Tercatat Sudah Terima Booster

Jumat 20 May 2022 18:56 WIB

Red: Nora Azizah

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat mencapai 43,56 juta jiwa hingga Jumat (20/5/2022).

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat mencapai 43,56 juta jiwa hingga Jumat (20/5/2022).

Foto: ANTARA/Irwansyah Putra
Sementara, 166,6 juta penduduk Indonesia tercatat sudah terima vaksinasi penuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat mencapai 43,56 juta jiwa hingga Jumat (20/5/2022). Data Satgas COVID-19 yang diterima di Jakarta, Jumat, jumlah penduduk yang telah mendapat suntikan tiga dosis vaksin COVID-19 mencapai 43.561.887 orang. Dengan demikian tercatat, suntikan dosis penguat vaksin COVID-19 sudah diberikan pada 20,92 persen dari total warga yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19.

Sementara itu, penduduk yang mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19 bertambah 140.528 orang menjadi 166.632.702 orang. Sedangkan penerima dosis pertama bertambah 56.909 orang, sehingga jumlah keseluruhan mencapai 199.798.711 orang.

Baca Juga

Pemerintah berencana memvaksinasi sebanyak 208.265.720 juta orang. Dengan demikian tercatat, suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 sudah diberikan pada 95,93 persen dari total 208.265.720 warga yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19.

Sementara warga yang sudah selesai menjalani vaksinasi meliputi 80,01 persen dari total sasaran. Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan, peluang terjadinya lonjakan kasus COVID-19 pascamudik Lebaran pada tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena tingkat vaksinasi sudah tinggi.

"Sekarang ini yang sudah divaksinasi kan persentasenya tinggi sekali sehingga kekhawatiran itu masih ada, namun tidak besar," katanya.

Dia mengatakan, pada masa mudik Lebaran tahun-tahun sebelumnya, jumlah masyarakat yang divaksinasi COVID-19 di Indonesia masih rendah sehingga terjadi lonjakan kasus COVID-19 pascamudik. "Dulu pada waktu lonjakan itu, yang divaksinasi masih belum mencapai target, masih rendah sehingga terjadi lonjakan," katanya.

Zubairi menjelaskan masyarakat yang sudah divaksinasi dua kali akan memiliki risiko lebih rendah untuk tertular COVID-19 dan jika tetap tertular, tidak menimbulkan gejala yang berat.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA