Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Petani Keluhkan Pupuk Subsidi Langka, Pupuk Nonsubsidi Mahal

Jumat 20 May 2022 18:18 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Gita Amanda

Petani menabur pupuk bersubsidi, (ilustrasi)

Petani menabur pupuk bersubsidi, (ilustrasi)

Foto: Antara/Irwansyah Putra
Petani tidak sanggup dengan pupuk nonsubsidi yang harganya mahal.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Memasuki musim tanam, para petani di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung mulai mengelukan hilangnya pupuk subsidi. Sedangkan sebagai gantinya petani tidak sanggup dengan pupuk nonsubsidi yang harganya mahal.

Keterangan yang diperoleh Republika, Jumat (20/5/2022), beberapa petani di Desa Reno Basuki, Kecamatan Wani Nabung, Kabupaten Lampung Tengah menyatakan, keberadaan pupuk subsidi seperti pupuk urea dan phonska selalu terjadi setiap tahunnya. Diduga penyaluran pupuk subsidi kepada kelompok tani tidak terbuka, sehingga penyaluran tidak merata.

Baca Juga

Meskipun penyaluran pupuk subsidi tersedia melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), namun stoknya terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan para petani. Banyaknya persyaratan bagi petani yang ingin mendapatkan pupuk subsidi tersebut, membuat petani mulai kehilangan kesempatan untuk mendapat jatah pupuk subsidi. Sedangkan untuk beli pupuk nonsubsidi harganya mahal.

Irawan (30 tahun), petani singkong (ubikayu) di Desa Reno Basuki terpaksa membeli pupuk nonsubsidi, meskipun mahal. Menurut dia, menggunakan pupuk nonsubsidi, biaya sarana prasarana produksi yang dikeluarkan para petani meningkat, dampaknya pendapatan petani berkurang.

Dia mengatakan, saat ini harga pupuk subsidi jenis phonska Rp 140 ribu per sak (50 kilogram), sedangkan harga pupuk urea Rp 130 ribu per sak. Sedangkan harga pupuk non subsidi phonska Rp 160 ribu per sak dan pupuk urea Rp 150 ribu per sak.

"Di pasaran semua jenis pupuk non subsidi mengalami kenaikan harga, ditambah jenis pupuk phonska langka di pasaran, dan harga obat-obat pertanian melambung tinggi,” kata Irawan.

Dia menjelaskan, meskipun pupuk subsidi tersedia di Gapoktan, namun, pupuk subsidi yang di peroleh dari Gapoktan hanya dua sak yakni 100 kg, jumlah tersebut tidak mencukupi kebutuhan petani, untuk sehektare kebun singkong petani membutuhkan 400 kg pupu.

Selain pupuk, petani singkong juga membutukan obat-obatan pertanian yang harganya juga mahal, seperti obat semprot untuk membasmi hama dan rumput. Harga obat semprot di pasaran berkisar Rp 80 ribu hingga 90 ribu per liter.

Natio (60), petani singkong lainnya di desa tersebut mengatakan, stok kebutuhan pupuk subsidi tidak seperti yang sering diungkapkan para pejabat pemerintahan yang selalu menyatakan ketersediaan pupuk subsidi untuk para petani tercukupi. Namun faktanya, kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk menjadi kendala yang dihadapi para petani dari tahun ketahun.

"Permasalahan yang dihadapi petani singkong di Desa kami dan daerah lainya di Lampung yakni kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk non subsidi telah menjadi kendala setiap tahunnya," ujar Natio.

Menurut dia, saat ini para petani singkong sedikit lega karena harga singkong dinilai bagus, saat ini harga singkong Rp 1.950 per kg, harga tersebut merupakan harga kotor, setelah dipotong biaya bongkar muat dan potongan dari pabrik pengempul Singkong tapioka berkisar 25 persen hingga 30 persen, petani singkong menerima harga bersih Rp 1.500 per kg.

Dia berharap permasalahan kelangkaan pupuk subsidi di daerah menjadi perhatian khusus pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, selain itu, Natio juga berharap harga singkong tetap stabil di harga standar yakni 1.500 per kilogram karena jika harga singkong dibawah standar maka para petani tidak mendapatkan keuntungan.

"Kalau harga singkong dibawah harga standar, maka kami para petani singkong tidak mendapatkan keuntungan dari hasil panen karena biaya operasional tidak sebanding harga jual singkong," ujar Natio.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA