Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Ingin Awet Muda? Coba Hindari Makan Terlalu Malam

Jumat 20 May 2022 11:39 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Membatasi asupan makanan di malam hari bisa berikan manfaat antipenuaan.

Membatasi asupan makanan di malam hari bisa berikan manfaat antipenuaan.

Foto: www.freepik.com
Membatasi asupan makanan di malam hari bisa berikan manfaat antipenuaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membatasi asupan kalori di malam hari bisa memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan. Salah satu manfaat tersebut adalah manfaat antipenuaan.

Hal ini diketahui melalui sebuah studi pada hewan yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Texas (UT) Southwestern Medical Center. Studi ini dilakukan untuk mengetahui apakah restriksi kalori di waktu tertentu dapat memperpanjang harapan hidup.

Baca Juga

Dalam studi ini, tim peneliti memberikan makan hewan tikus hanya pada waktu malam hari. Berbeda dengan manusia, tikus merupakan hewan nokturnal yang aktif di malam hari.

Dalam studi ini, tim peneliti membagi tikus ke dalam enam kelompok. Satu kelompok merupakan kelompok kontrol. Tikus dalam kelompok kontrol bisa makan kapan pun dan di mana pun.

Lima kelompok lainnya berisi tikus yang menjalani diet restriksi kalori, di mana mereka mengonsumsi kalori 30-40 persen lebih sedikit. Seluruhnya mendapatkan total asupan kalori yang sama namun memiliki jadwal makan yang berbeda.

Hasil studi menunjukkan bahwa tikus-tikus dalam kelompok kontrol memiliki rerata usia 800 hari. Sedangkan tikus yang menjalani restriksi kalori namun bisa makan kapan pun tanpa batasan waktu emmiliki rerata usia 875 hari atau 10 persen lebih panjang.

Tikus yang menjalani restriksi kalori dan hanya bisa makan di siang hari serta puasa 12 jam di malam hari memiliki rerata usia 959 hari. Dengan kata lain, mereka memiliki rerata usia sekitar 20 persen lebih panjang dibandingkan kelompok kontrol.

Dari studi ini, tim peneliti menemukan bahwa tikus yang memiliki rerata usia paling panjang adalah tikus yang menjalani restriksi kalori, hanya bisa makan di malam hari, dan puasa 12 jam di siang hari. Tikus-tikus yang menjalani pola makan ini memiliki rerata usia 1.068 hari atau sekitar 35 persen lebih panjang dibandingkan kelompok kontrol.

Dengan kata lain, manfaat memperpanjang harapan hidup paling maksimal bisa didapatkan bila restriksi kalori dilakukan dan jam makan hanya terjadi di fase aktif jam biologis. Pada manusia, manfaat yang sama mungkin bisa didapatkan bila menjalani restriksi kalori dan membatasi makan di malam hari, waktu di mana jam biologis berada pada fase tidak aktif.

"Bila temuan ini juga berlaku pada manusia, kita mungkin perlu berpikir ulang apakah kita benar-benar ingin mengemil di tengah malam," ungkap peneliti Dr Joseph Takahashi dari UT Southwestern Medical Center, seperti dilansir Medical News Today, Jumat (20/5/2022).

Melalui studi ini, tim peneliti juga menemukan bahwa pengaturan pola makan atau diet restriksi kalori dapat memperbaiki regulasi kadar glukosa dan sensitivitas insulin pada hewan. Perbaikan ini terlihat paling besar pada tikus yang hanya makan di fase aktif mereka. Restriksi kalori ini juga turut memperlambat perubahan terkait penuaan.

"Mengingat penuaan bisa dianggap sebagai peningkatan peradangan yang progresif, (restriksi kalori) juga memperlambat peningkatan peradangan terkait penuaan, yang juga konsisten dengan penundaan proses penuaan," jelas Dr Takahashi.

Pada manusia, makan terlalu larut atau dekat dengan jam tidur juga tampak mengganggu kemampuan tubuh untuk menjaga gula darah dalam kadar yang sehat. Terlebih, jenis makanan yang biasa dikonsumsi menjelang waktu tidur umumnya cemilan tinggi karbohidrat seperti keripik kentang, cookies, permen, atau popcorn.

"Cemilan seperti ini lebih mungkin mengganggu kontrol gula darah dan meningkatkan risiko prediabetes serta diabetes," ungkap ahli gizi Mariam Eid RD LD.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA