Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

PDIP akan Gelar Rakernas Kedua pada 10-13 Juni

Jumat 20 May 2022 11:35 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Andi Nur Aminah

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto

Foto: istimewa
Rakernas itu akan membahas aspek strategis untuk masa depan bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) kedua pada 10 hingga 13 Juni mendatang. Forum tersebut disebut akan membahas aspek strategis untuk masa depan bangsa.

"Kami punya agenda yang sudah tertata, 10-13 Juni kami akan Rakernas kedua. Dalam Rakernas itu kita akan bahas keseluruhan aspek-aspek strategis bagi masa depan dan negara," ujar Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto di Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Baca Juga

Ia tak menjawab, apakah Rakernas akan dijadikan forum untuk menentukan sosok yang akan diusung di pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Hasto hanya menjelaskan, Rakernas merupakan forum konsolodasi yang digelar setiap tahunnya.

"Kami konsolidasi. Dalam politik itu bukan hanya kekuasaan, bukan sekadar ketua umum bertemu mendapat liputan media, tapi kerja bagi PDIP bersama rakyat, memberi inspirasi bagi rakyat," ujar Hasto.

Di samping itu, ia menjelaskan bahwa PDIP tak terburu-buru dalam memutuskan hal-hal yang ditujukan kepada pemilihan umum (Pemilu) 2024. Partai berlambang banteng itu disebutnya masih fokus membantu rakyat pascapandemi Covid-19.

"Prioritas bagi PDIP sekarang adalah bekerja untuk rakyat, turun ke bawah, memberikan energi terbaik di tengah tantangan global yang tidak mudah," ujar Hasto.

Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro menilai bahwa kedekatan antarelite partai menjadi pertimbangan PDIP dalam membentuk koalisi. Hal tersebut didasarkan dari pemilu sebelumnya.

PDIP, jelas Bawono, memiliki peluang berkoalisi dengan partai politik yang pernah berkoalisi dengannya di kontestasi sebelumnya. Salah satu contohnya yang berpeluang terjadi adalah koalisi dengan Partai Gerindra, yang pernah bekerja sama untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2009.

"Kedekatan antarelite ketua umum itu paling sangat menentukan, ketimbang faktor lain. Karena kalau faktor presidential threshold, PDIP sendiri sudah bisa. Karena itu sering kita dengar isu atau rumor Prabowo-Puan," ujar Bawono dalam sebuah diskusi daring, Kamis (19/5/2022).

Kecenderungan PDIP untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra dilihat semakin besar setelah Prabowo Subianto bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal tersebut tentu menjadi momentum untuk menyamakan pandangan terkait pemerintahan.

"Ada kedekatan yang berulang, kalau itu PDIP dan Gerindra itu pernah mesra di 2009 dan di 2019 kedekatan itu kan berulang lagi antara Pak Prabowo yang masuk ke kabinet. Menurut saya ini salah satu faktor nanti PDIP akan berkoalisi dengan Gerindra," ujar Bawono.

 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA