Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

ASEAN Bahas Penguatan Kembali Kerja Sama Ekonomi di Tengah Krisis Global

Jumat 20 May 2022 00:25 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (tengah) berbincang dengan Menteri Perdagangan Kamboja Pan Sorasak (kiri) dan Deputi Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi ASEAN Satvinder Singh (kanan) saat konferensi pers usai ASEAN Economic Ministers

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (tengah) berbincang dengan Menteri Perdagangan Kamboja Pan Sorasak (kiri) dan Deputi Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi ASEAN Satvinder Singh (kanan) saat konferensi pers usai ASEAN Economic Ministers

Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Sistem perdagangan multilateral saat ini dinilai kehilangan arah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para menteri ekonomi ASEAN mengadakan pertemuan khusus di Bali pada 17-18 Mei 2022 usai diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Amerika Serikat-ASEAN pekan lalu. Pertemuan khusus itu membahas konsolidasi antar negara untuk kembali memperkuat kerja sama ekonomi.

Adapun rapat khusus tersebut diprakarasi oleh Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi. "Kita harus menggunakan momentum ini untuk menciptakan semacam gerakan dengan satu tujuan bersama untuk membawa ASEAN dari negara berpenghasilan menengah ke negara maju," kata Lutfi dalam konferensi pers, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga

Lutfi mengatakan, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh ASEAN. Masalah yang utama yakni sistem perdagangan multilateral yang sekarang kehilangan arah karena tidak berjalan sesuai prinsip WTO. Selain itu, ASEAN juga mengalami masalah akibat adanya perang di Ukraina serta perubahan iklim yang menyebabkan harga makin tinggi.

Ia menyampaikan, para menteri ASEAN membahas cara agar kembali dapat bersatu dan bisa membuat promosi kegiatan usaha bersama agar kekuatan negara-negara ASEAN bisa muncul.

Pada era 1980-an, Lutfi mengatakan, ASEAN memiliki sejumlah inisiatif kerja sama dagang seperti pembuatan pabrik bersama untuk mengatasi kekuarangan yang dihadapi bersama. Di tengah tantangan ekonomi global yang yang makin tinggi upaya tersebut perlu dilakukan kembali.

"Salah satunya, dengan bagaimana kita menyikapi produksi bersama untuk bertukar barang sama-sama di dalam ASEAN dan kita menunjukkan bahwa ASEAN relevan again," katanya.

Menteri Perdagangan Kerajaan Kamboja, Pan Sorasak,  mengatakan, pemulihan ekonomi dunia dari pandemi Covid-19 tidak merata. Kamboja sebagai pimpinan ASEAN saat ini menilai, perlu ada kembali komitmen dan tekad kerja sama untuk membawa ASEAN tetap relevan dengan situasi dunia.

"Pertemuan ini menekankan perlunya ASEAN untuk tetap waspada dan mempercepat implementasi kerangka pemulihan komprehensif," kata dia.

Kesepuluh negara juga harus menegaskan kembali tujuan dan prinsip-prinsip pandangan ASEAN tentang Indo Pasifik. Termasuk untuk memperkuat arsitektur regional yang transparan, inklusif, dan berbasis aturan dengan ASEAN sebagai pusatnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA