Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Perjalanan Diplomasi Permadani Gobel

Kamis 19 May 2022 16:29 WIB

Red: Joko Sadewo

Rachmat Gobel

Rachmat Gobel

Foto: Republika/Yasin Habibi
Parlemen dari Iran dan Indonesia melakukan dialog intensif.

Oleh : Nasihin Masha, Mantan Pemimpin Redaksi Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Iran-Indonesia, Mohammad Mehdi Zahedi, tiba-tiba meninggikan suaranya. Ia meminta semuanya untuk tak buru-buru pergi. Ya, pertemuan baru saja berakhir. Dialog intensif sudah tuntas. Piring-piring dan gelas-gelas bekas makan malam sudah dibawa keluar ruangan. Dan, sesi foto-foto pun sudah selesai. Rupanya, ia ingin memberikan kenang-kenangan sebelum berpisah, esok rombongan dari Indonesia akan kembali ke Tanah Air. “Saya amati, Anda menggemari handicraft, khususnya permadani. Jadi ini ada kenang-kenangan permadani dari kami,” katanya.

Lalu ia memberikan bungkusan kecil ke tamunya. Lalu mereka bersama-sama membuka bingkisan tersebut. Isinya permadani kecil, seukuran sajadah.

Malam itu, Senin (9 Mei 2022), delegasi parlemen dari Iran dan Indonesia melakukan dialog intensif di sebuah ruangan kecil di Hotel Espinas Palace, Teheran, Iran. Pertemuan ini menjadi penutup setelah rangkaian pertemuan selama empat hari, sejak Jumat. Acara yang cukup padat: bertemu pimpinan perusahaan teknologi kesehatan, pimpinan lembaga riset dan inovasi teknologi nano, bertemu dengan kementerian luar negeri, bertemu pimpinan kementerian industri, pertambangan, dan perdagangan, bertemu pimpinan parlemen, dan dua kali pertemuan dengan pimpinan kelompok persahabatan parlemen Iran Indonesia. Plus pertemuan-pertemuan kecil dan acara dengan KBRI.

“Ini namanya diplomasi permadani,” kata Rachmat Gobel, saat berfoto bersama dengan membentangkan sajadah tersebut. Gobel memimpin delegasi parlemen untuk malakukan muhibah ke Iran. Perjalanan dinas ini merupakan undangan dari parlemen Iran. Awalnya adalah permintaan pertemuan delegasi parlemen Iran saat pertemuan Inter Parliamentary Union (IPU) di Bali, Maret 2022 lalu. Dalam pertemuan itu, mereka mengundang Gobel untuk berkunjung ke Iran. Dalam kunjungan ke Iran ini, Gobel selalu membagikan kopi Indonesia.

Gobel datang ke Iran sejak Kamis (5 Mei 2022) malam. Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang dari Partai Nasdem itu datang didampingi sejumlah anggota DPR RI dan juga wakil dari pemerintah. Mereka adalah Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto, Ketua Komisi VI Faisol Riza, Wakil Ketua Komisi VI Martin Manurung, dan tiga anggota Komisi XI yaitu Heri Gunawan, Fauzi Amro, dan Charles Meikyansyah. Sedangkan wakil pemerintah adalah Direktur Hulu Kementerian ESDM Mustafid Gunawan, Direktur Lingkungan Kementerian ESDM Mirza Mahendra, dan Staf Ahli Menteri Perindustrian Andi Rizaldi. Duta Besar Indonesia untuk Iran, Ronny Prasetyo Yuliantoro juga selalu hadir mendampingi kunjungan delegasi Indonesia tersebut.

Saat merencanakan kunjungan ke Iran ini, ada sejumlah pihak yang mengingatkan bahwa Iran sedang diembargo oleh Amerika Serikat. Selain itu, Iran juga negeri penganut Syiah, yang hal ini merupakan isu sensitif bagi sebagian umat Islam Indonesia. Namun Gobel, yang lebih mencerminkan wajah pengusaha dibandingkan wajah politisi ini, tetap mantap untuk berangkat ke Iran. “Kita ingin tahu apa sebetulnya yang ada di Iran,” katanya. Gobel tentu seorang Sunni seperti galibnya umat Islam Indonesia umumnya. Ayahnya, dan juga dirinya, aktif di Syarikat Islam. Jadi kunjungan ini tak ada kaitan dengan masalah Syiah. Tentang posisi politik Iran yang berseberangan dengan Amerika Serikat, Gobel justru sangat dekat dengan Jepang, sekutu terbaik Amerika Serikat di Asia. Gobel adalah ketua umum Persatuan Alumni dari Jepang (Persada) dan juga ketua umum Asosiasi Persahabatan Indonesia Jepang. Bisnis utamanya pun dengan perusahaan Panasonic, raksasa elektronika Jepang. Jadi, Gobel tak punya tendensi politik terhadap Iran.

Tak lama setelah Revolusi Iran pada 1979, ditandai dengan tumbangnya Syah Iran, M Reza Pahlevi, Iran menjadi negeri yang berseteru dengan AS. Syah Iran sangat didukung oleh AS. Lalu, beberapa bulan kemudian, massa pendukung revolusi Iran menyerbu kedutaan besar AS di Teheran. Sejak itu, AS tak memiliki kedutaan di Iran. Negeri yang saat itu dipimpin Khomeini pun mendapatkan embargo dari PBB. Namun rezim para mullah itu tetap kokoh bertahan, bahkan menjadi duri bagi dominasi AS di Timur Tengah, khususnya untuk isu Lebanon, Syuriah, dan bahkan Palestina. Hingga kemudian, pada 2015, embargo PBB itu dicabut. Ekonomi Iran langsung menggeliat. Namun kemudian, pada 2018, pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi embargo pada Iran. AS menarik diri dari kesepakatan 2015 di masa pemerintahan Barack Obama. Walau ini sanksi satu negara saja, namun AS adalah penguasa dunia dan menguasai lembaga-lembaga keuangan dunia, sehingga sanksi itu bersifat multilateral. Maka sanksi ini tetap efektif menggencet ekonomi Iran. Hanya China, India, dan Rusia yang berani berbisnis dengan Iran. Negeri yang juga cukup bernyali dengan ‘mencuri-curi’ berbisnis dengan Iran adalah Turki dan Korea Selatan. Iran juga disebut masih bisa menjual migasnya hingga senilai 100 miliar dollar AS.

Pada 2016, saat Iran bebas embargo, Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Iran – Soeharto (1993), Gus Dur (2000), Megawati (2004), SBY (2008), dan Boediono (2012) juga pernah ke Iran. Saat itu, Jokowi menyepakati untuk menaikkan transaksi perdagangan kedua negara hingga senilai 20 miliar dollar AS. “Namun saat ini baru mencapai 1 miliar dollar AS,” kata Menteri Industri, Pertambangan, dan Perdagangan Iran, Seyed Reza Fatemi Amin. Setelah sanksi ekonomi AS, tak hanya Indonesia yang sulit berbisnis dengan Iran, tapi semua negara di dunia. Hanya negara-negara yang bernyali yang tetap bisa berbisnis dengan Iran. Kini, Iran menderita secara ekonomi. Ditambah pukulan pandemi Covid19 dan kemudian perang Rusia-Ukraina, penderitaan ekonomi Iran makin berat. Harga-harga barang di Iran melejit, inflasi naik, dan kurs mata uang Iran jatuh di depan mata uang asing. “Dulu dengan 10 dolar bisa membeli 5 kg beras. Kini cuma dapat 2 kg beras. Sewa rumah yang dulu cuma 200 dolar per bulan, kini menjadi 400 dolar per bulan. Hidup makin berat dalam dua tahun ini, karena gaji sama sekali tak naik,” kata Mehmed, seorang sopir. Hari-hari ini Iran sedang meriang karena masyarakat resah oleh harga-harga yang melonjak.

Karena itu, pemerintah Iran sedang bekerja keras agar tetap bisa berbisnis dengan negara-negara lain. Mereka mencari cara untuk bisa menembus blokade ekonomi AS. Iran kaya akan minyak dan gas alam. Sebetulnya kapasitas terpasang lifting minyak Iran lebih dari 4 juta barel per hari, namun yang bisa dieksploitasi hanya 2 juta barel per hari. Target Iran adalah bisa menaikkan lifting minyaknya menjadi 5,7 juta barel per hari pada 2030. Untuk itu butuh investasi hingga 160 miliar dollar AS. Sebetulnya, Indonesia dan Iran sudah sepakat tentang investasi bidang ini di ladang minyak Mansouri dan Ab-Teymour, namun semua menjadi mentah lagi akibat embargo AS tersebut. Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia dan cadangan gas terbesar kedua di dunia. Perlu diketahui, 82 persen ekspor Iran berasal dari minyak dan gas. Namun akibat embargo tersebut, Iran tak bisa berbisnis dengan optimal. Selain turunnya pendapatan, hal itu juga berarti naiknya perawatan untuk sumur-sumur minyaknya yang tak bisa berproduksi. Investasi Iran di berbagai negara juga tak bisa berjalan mulus. Selalu terganjal. Pada 2021, sesuai perjanjian 2015, embargo jual-beli senjata terhadap Iran sudah dicabut PBB, walau AS tak setuju. Namun hal itu tak banyak menolong kehidupan rakyat sehari-hari. Karena itu, Iran sedang mencari jalan bagaimana agar bisa menjual minyak dan gasnya, serta mendapatkan kebutuhan lainnya, seperti minyak goreng dan karet.

Upaya kerja keras Iran itu sangat tergambar selama kunjungan delegasi DPR RI ke Iran. Mereka berusaha keras agar bisa menjual minyak dan gasnya ke Indonesia. Mereka juga berharap bisa mendapatkan minyak goreng dan karet dari Indonesia. Saat ini, mereka sudah memiliki kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia, UGM, dan Unpad, termasuk dengan RS Hasan Sadikin dan RS Sardjito. Iran memang memiliki kemandirian dalam hal teknologi kesehatan, alat-alat kesehatan, dan farmasi. Selain harganya lebih murah, juga dalam hal-hal tertentu memiliki keunggulan tersendiri seperti teknologi scanner, bedah jantung dan otak, serta robotic surgery. Bahkan untuk bedah plastik pun tergolong maju. Kemampuan teknologi Iran juga teruji untuk pembangkit listrik, khususnya teknologi turbinnya. Salah satu keunggulannya adalah harga yang murah dengan kualitas yang baik. Dan, akhirnya, ini yang paling luar biasa, yaitu teknologi nano.

Mereka mulai memasuki teknologi nano pada 2001. Saat itu Iran cuma memiliki 10 orang yang mengerti tentang teknologi nano. Saat ini mereka sudah memiliki 40 ribu peneliti teknologi nano dengan kualifikasi S2 dan S3. Saeed Sarkar, Sekjen Dewan Inovasi Teknologi Nano Iran, menjelaskan bahwa pada 2001 Iran baru mampu membuat sembilan publikasi makalah dan menduduki ranking ke-57 di dunia. Namun pada 2021, Iran telah membuat 11.582 publikasi makalah dan menduduki ranking ke-4 di dunia. Di atas Iran ada China, India, dan Amerika Serikat. Semua negara itu merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan juga negara dengan PDB yang besar. Sedangkan Iran bukanlah negara kaya. GDP per kapitanya pun di bawah Indonesia, hanya 2.422 dolar AS (data Bank Dunia pada 2020). “Kami memiliki strategi tersendiri, sehingga lebih efisien,” kata Saeed. Faktor efisiensi ini yang justru menjadi keunggulan Iran dibandingkan dengan tiga negara pesaingnya. Kualitas teknologi nano Iran setara dengan yang lain-lain, namun dari segi harga justru paling kompetitif. Karena itu, sejumlah negara lebih memilih teknologi nano buatan Iran. “Kami sudah mengekspor teknologi nano ke 45 negara, termasuk China, Korea Selatan, Rusia, Jerman, dan Australia,” katanya.

Ada 11 bidang yang dimasuki Iran untuk teknologi nano, yaitu kesehatan, konstruksi, migas, air dan pertanian, otomotif, tekstil, jasa industri, optik dan elektronika, bahan baku, pendidikan, dan manufaktur. “Saat ini ada 324 perusahan yang terlibat dan ada 1.111 produk yang sudah dihasilkan,” kata Saeed.

Dengan beragam hal yang bisa ditawarkan Iran ke Indonesia, dan juga beragam hal yang dibutuhkan Iran dari Indonesia, pihak Iran sangat berharap kepada Indonesia. Saat ini kedua negara sedang negosiasi membuat Preferential Trade Agreement (PTA). Iran siap menurunkan tarif dan nontariff untuk produk-produk Indonesia, namun Iran juga meminta sebaliknya. Iran berharap PTA kedua negara segera selesai. Iran juga menawarkan pelabuhan Chabahar dan jalur Utara-Selatan untuk jalur masuk produk Indonesia, sekaligus menjadi pintu masuk ke negara-negara Kaukasus maupun ke Rusia. Iran juga menawarkan traktor serta barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sebaliknya Iran mengundang Indonesia untuk membangun pabrik lokomotif di Iran untuk dipasarkan ke negara-negara sekitar. Iran juga menawarkan bioteknologi maupun teknologi nano.

Berdasarkan catatan KBRI di Teheran, nilai perdagangan Indonesia-Iran mengalami surplus untuk Indonesia. Pada 2021, nilai surplusnya 165,59 juta dollar AS. Jumlah wisatawan Iran ke Indonesia juga lumayan. Pada 2018 mencapai 11.415 orang. Tentu pada masa pandemi Covid19, jumlah itu menurun drastis, hanya ada 300 orang pada 2021.

Saat berbincang dengan menteri perindustrian, pertambangan, dan perdagangan Iran, Gobel mengaku jatuh cinta pada keindahan Iran. “Hal itu bisa dilihat pada handicraft Iran. Bukan hanya permadani tapi juga pada kerajinan lainnya. Saya bisa merasakan hatinya orang-orang yang membuat handicraft. Di situ kita bisa memahami indahnya hati seseorang,” katanya. Gobel juga mengingatkan bahwa Indonesia juga negeri yang indah, selain alamnya yang indah juga bisa dilihat pada produk budayanya yang indah seperti terlihat pada kain batik, songket, sulam, maupun ukiran. “Indonesia dan Iran adalah negeri para pencinta keindahan,” katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA