Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Percaya Proses adalah Dusta Sepak Bola Modern

Kamis 19 May 2022 03:54 WIB

Red: Joko Sadewo

 Mantan manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer gagal membawa timnya meraih gelar juara.

Mantan manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer gagal membawa timnya meraih gelar juara.

Foto: AP Photo/Dave Thompson, File
Para suporter takkan sabar menunggu timnya segera meraih gelar.

Oleh : Gilang Akbar Prambadi, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Berlebihan kah judul yang saya torehkan di atas? Jika yang kita bicarakan adalah sepak bola kelas Eropa, sepertinya tidak. Baiklah, mari mengawali pembahasan ini ke dalam konteks Liga Primer Inggris. Kompetisi paling elite dan diakui paling berkelas di planet ini.

Kekalahan Arsenal dari Newcastle United dini hari kemarin WIB semakin memperjelas bahwa proses dalam sepak bola modern nyaris merupakan isapan jempol belaka. Memang, Arsenal yang sedang memburu tiket Liga Champions musim depan masih bisa bernapas.

Ada laga pamungkas yang akan mereka mainkan untuk bisa kembali ke zona empat besar, tempat yang semula mereka duduki  dua pekan lalu, sebelum dikalahkan Tottenham Hotspur.

Namun, tugas Granit Xhaka dan kawan-kawan benar-benar maha berat. Apalagi, jika dibandingkan dengan Spurs, yang juga akan memainkan laga pemungkas musim 2021/2022 pada Ahad (22/5/2022) pukul 22.00 WIB.

Mengapa demikian?

Saat ini, perburuan tiket Liga Champions di Tanah Inggris hanya menyisakan dua kontestan, Arsenal dan Spurs. Arsenal di peringkat kelima dengan 66 poin tertinggal dua angka dari Spurs yang duduk satu strip di atasnya.

Pada hari terakhir Liga Primer Inggris 2021/2022, Arsenal akan menjamu Everton sedangkan Spurs bertandang ke markas Norwich City. Dari segi lawan yang akan dihadapi, jelas, tugas Arsenal lebih berat karena sang lawan sudah pasti menjadikan kemenangan sebagai harga mati.

Bahkan, mungkin kemenangan pada laga nanti jauh lebih berarti bagi Everton dibandingkan Arsenal. Alasannya? Itu karena Everton sangat membutuhkan tiga angka demi terlepas dari bayang-bayang degradasi.

Everton, yang sudah mengganti pelatih pada pertengahan musim ini masib terjerembab di posisi ke-16 dengan 36 angka. Cuma unggul satu poin dari Leeds United di posisi ke-17 dan dua poin dari Burnley yang menempati bibir jurang degradasi.

Andai kalah atau imbang sekalipun, tim besutan Frank Lampard ini harus mengucapkan selamat tinggal kepada kasta tertinggi Liga Inggris yang telah mereka huni selam 70 tahun terakhir. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan the Toffees adalah bila Leeds dan Burnley menuai hasil sama buruknya. Maka dari itu, sudah tentu Everton akan tampil habis-habisan saat nanti bertemu Arsenal.

Adapun Spurs, tim besutan Antonio Conte ini akan bertempur melawan Norwich yang sudah dipastikan degradasi musim ini.

Norwich sendiri seperti sudah tak niat memainkan sisa-sisa laga musim ini sejak dipastikan degradasi tanggal 1 Mei lalu. Dari tiga laga terakhir sejak dipastikan turun kasta akibat kekalahan 0-2 dari Aston Villa, Norwich tumbang dua kali, dan imbang sekali.

Tercatat, dua kekalahan yang diderita Norwich termasuk kategori pembantaian. Digasak West Ham 0-4 dan dibungkam Leicester 0-3. Imbang melawan Wolverhampton Wanderes pekan lalu jadi satu-satunya prestasi terbaik the Cannaries sejak dipastikan terdegrasi.

Oleh karena itu, tak dimungkiri bahwa kemungkinan Spurs meraup tiga poin di markas Norwich jauh lebih terbuka dibandingkan Arsenal yang harus menjamu Everton nanti.

Kembali ke soal proses. Di sinilah titik masalahnya. Jargon 'trust the process' alias 'percaya kepada proses' sangat dielukan oleh Arsenal dan suporternya kepada Arteta.

Memang, tak sedikit dari gooner yang ingin sosok asal Spanyol itu pergi dari Emirates Stadium. Namun, belum juga musim ini selesai, manajemen Arsenal sudah memperpanjang kontrak Arteta.

Tepatnya pada 6 mei kemarin, Arteta menandatangani kontrak baru untuk membuatnya terikat di klub London Utara itu hingga 2025.

Gelombang protes tak banyak mengalir dari fan the Gunners saat itu. Besar kemungkinan, itu karena Arsenal saat itu punya kans sangat besar untuk meraih tiket Liga Champions. Unggul poin dari pesaing di bawahnya, plus punya tabungan dua laga yang belum dimainkan.

Arteta yang datang pada 2019 silam memang banyak diharapkan bisa membangun tim melalui sebuah proses panjang. Tapi sejak saat itu, hingga tiga tahun kemudian, Arsenal masih begitu-begitu saja. Finis di zona top four yang sudah tujuh tahun tak ditempati, masih sulit untuk dimasuki.

Begitulah memang sepak bola modern, sulit bagi sebuah tim membangun pondasi kuat, alias, sudah pasti telat. Banyak faktornya. Salah satu yang paling nyata adalah tentang rasa sabar para suporter. Lagipula, bagaimana bisa membangun sebuah tim di tengah kepungan tim-tim kuat? Belum juga berbenah, kesebelasan yang sedang bertumbuh ala Arsenal ini sudah harus menerima tekanan suporter karena kalah dari tim A, tim B, tim C yang semuanya kuat. Padahal, namanya tim sedang menjalani proses sudah pasti tidak akan mungkin langsung hebat.

Coba tanyakan ini kepada Ole Gunnar Solskjaer. Mantan pelatih MU yang akhirnya harus menyingkir karena jargon tentang 'proses' tak bisa diterima oleh para fans Manchester United yang sudah kelaparan gelar. Padahal, andai Solskjaer kemarin tak pergi, mungkin MU akan bernasib lebih baik. Faktanya, Ralf Rangnick terbukti cuma memberi MU harapan palsu.

Sekarang mari bandingkan dengan sejumlah nama pelatih beken yang jelas-jelas sukses tanpa proses ini-itu. Thomas Tuchel, instan memberi trofi Liga Champions untuk Chelsea musim lalu. Terbaru, Carlo Ancelotti, sukses besar di Real Madrid.

Sekaliber Juergen Klopp dan Josep Guardiola pun datang saat tim besutan mereka masing-masing sudah kuat. Klopp datang saat Liverpool nyaris juara Liga Primer Inggris beberapa musim sebelumnya bersama Brendan Rodgers. Pondasinya ada dan kokoh.

Kemudian Guardiola, tak usah ditanya. Sekelas Manuel Pellegrini saja terbukti bisa memberikan gelar liga dan tiket semifinal kepada Manchester City.

Kesimpulannya, proses dalam sepak bola modern adalah dusta jika dibarengi ekspektasi melangit. Maka, khususnya bagi fans MU, sangat arif jika tak berharap banyak kepada sosok Erik ten Hag. Dua sampai tiga tahun ke depan, kemungkinan MU masih akan begini-begini saja.

Jika ingin berharap melihat MU tiba-tiba hebat, lakukan itu di hati kecil saja. Lebih baik simpan tenaga untuk membesarkan hati ketika melihat suporter tim lain menertawakan MU kelak.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA