Rabu 18 May 2022 17:54 WIB

Erick Thohir: Belum Ada Rencana Menaikkan Harga Pertalite

Erick menyebut BBM di negara lain mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per liter

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pemerintah belum ada rencana menaikan harga BBM jenis Pertalite. (ilustrasi)
Foto: ANTARA Zabur Karuru
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pemerintah belum ada rencana menaikan harga BBM jenis Pertalite. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pemerintah belum ada rencana menaikan harga BBM jenis Pertalite. Erick menyampaikan, pemerintah tentu memiliki keberpihakan terhadap rakyatnya, terlebih saat ini masyarakat juga dihadapkan pada kenaikan harga pangan.

"Tidak mungkin pemerintah dengan kondisi pangan dan energi seperti ini lalu pemerintah mendiamkan dan tidak mengintervensi. Pemerintah pastinya hadir, pagi-pagi Bapak Presiden kita setiap hari muter ke pasar melihat yang terjadi di bawah," ujar Erick usai memberikan pembekalan peserta rekrutmen bersama BUMN 2022 bertajuk "Berkarya untuk Indonesia" di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (18/5).

Baca Juga

Erick menilai tidak banyak figur seperti Presiden Joko Widodo yang langsung turun ke bawah untuk memastikan kebutuhan masyarakat. BUMN, ucap Erick, pun berusaha melakukan hal serupa dengan hadir di tengah-tengah masyarakat. Kata Erick, negara begitu sayang dengan rakyatnya. Terbukti saat pandemi, negara memberikan obat, vaksin, booster, hingga pelayanan rumah sakit secara gratis.

Mengenai BBM, Erick menyebut harga BBM di negara lain sudah mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per liter. Tentu, Erick sampaikan, pemerintah juga mengambil posisi dengan tidak mensubsidi Pertamax yang diperuntukkan untuk orang yang mampu.

"Makanya harganya Pertamax dinaikkan, itu pun di bawah harga pasar, yang lainnya Rp 16 ribu, ini cuma Rp 12 ribu. Pertalite sekarang Rp 7 ribuan, belum ada rencana pemerintah melakukan, tapi pemerintah juga sekarang sedang menjaga keuangan negara," ucap Erick.

Erick mengatakan saat ini dunia tengah mengalami ketidakpastian yang berdampak pada inflasi dan rantai pasok. Alhasil, sejumlah negara seperti Pakistan, Srilanka, hingga negara-negara Afrika mulai mengkonsolidasikan keuangannya.

"Indonesia Alhamdulillah ini pertama kali dalam sejarah republik, kita mempunyai nilai ekspor sampai 34 miliar (dolar AS). Ini kita harus tahan karena sebagian besar untuk kepentingan subsidi buat rakyat, listrik, BBM masih subsidi, bansos masih ada, BLT, minyak goreng. Ini negara kaya dan sangat pro rakyat. Kembali ke BBM, pemerintah hari ini belum rencana kenaikan," kata Erick menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement