Rabu 18 May 2022 16:49 WIB

Harga Minyak Naik Didorong Ekspektasi Pemulihan Permintaan China

China mengizinkan ratusan lembaga keuangan Shanghai beroperasi usai badai Covid.

Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua, seorang anggota staf yang mengenakan topeng bekerja di sebuah bengkel di sebuah taman industri di Distrik Qingpu, Shanghai, Cina timur, 17 Mei 2022. China mengizinkan 864 lembaga keuangan Shanghai untuk memulai operasi kembali.
Foto: Zhao Yihe/Xinhua via AP
Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua, seorang anggota staf yang mengenakan topeng bekerja di sebuah bengkel di sebuah taman industri di Distrik Qingpu, Shanghai, Cina timur, 17 Mei 2022. China mengizinkan 864 lembaga keuangan Shanghai untuk memulai operasi kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak naik tipis di perdagangan Asia pada Rabu (18/5/2022) sore. Kenaikan terjadi di tengah ekspektasi bahwa pelonggaran pembatasan COVID-19 di China akan mendorong permintaan dan data industri menunjukkan penarikan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 23 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 112,16 dolar AS per barel pada pukul 06.33 GMT. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 71 sen atau 0,6 persen, menjadi diperdagangkan di 113,11 dolar AS per barel, membalikkan beberapa kerugian sesi sebelumnya.

Baca Juga

Pihak berwenang mengizinkan 864 lembaga keuangan Shanghai untuk memulai operasi kembali, sumber mengatakan pada Rabu. Izin ini keluar sehari setelah kota China itu mencapai tonggak sejarah tiga hari berturut-turut tanpa kasus COVID-19 baru di luar zona karantina.

"Berita yang tidak terlalu buruk di China menawarkan penurunan dalam bentuk permintaan dan harga minyak yang jauh lebih tinggi, yang positif bagi produsen, tetapi berbahaya bagi sentimen konsumen," kata Managing Partner di SPI Asset Management, Stephen Innes, dalam sebuah catatan.

Meningkatkan kekhawatiran pasokan, stok minyak mentah dan bensin AS turun pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Selasa (17/5/2022). Stok minyak mentah turun 2,4 juta barel untuk pekan yang berakhir 13 Mei, kata mereka.

Data pemerintah AS akan dirilis pada Rabu waktu setempat. "Melonjaknya harga solar dan sulingan, bersama dengan stok minyak mentah yang ketat mendukung WTI dan saya percaya bahwa situasi akan membatasi penurunan harga minyak selama beberapa sesi berikutnya," kata Analis Senior OANDA Jeffrey Halley.

Tetapi, harga masih bisa menghadapi beberapa tekanan setelah laporan bahwa Amerika Serikat mengizinkan Chevron Corp untuk menegosiasikan lisensi minyak dengan produsen nasional Venezuela, untuk sementara mencabut larangan AS pada pembicaraan semacam itu yang dapat menyebabkan lebih banyak minyak mentah membanjiri pasar, kata analis ANZ Research. 

Kegagalan Uni Eropa pada Senin (16/5/2022) membujuk Hongaria untuk mencabut hak vetonya atas usulan embargo minyak Rusia juga dapat membebani, meskipun beberapa diplomat mengharapkan kesepakatan tentang larangan bertahap pada pertemuan puncak akhir Mei.

Untuk prospek ekonomi, Ketua Federal Reserve (Fed) AS Jerome Powell pada Selasa (17/5/2022) mengatakan bank sentral akan menaikkan suku bunga setinggi yang diperlukan untuk menahan inflasi yang katanya mengancam fondasi ekonomi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement