Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Tanda-Tanda Anak Mengalami Gangguan Kecemasan

Rabu 18 May 2022 16:45 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Tanda-tanda anak mengalami gangguan kecemasan. (lustrasi)

Tanda-tanda anak mengalami gangguan kecemasan. (lustrasi)

Foto: www.freepik.com.
Hindari merespons dengan: 'jangan jengeng' atau 'tidak ada yang perlu ditakutkan'.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan kecemasan tak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Menurut studi pada 2021, seperlima anak di dunia menunjukkan gejala kecemasan yang meningkat secara klinis. Seperti apa tandanya?

Gangguan kecemasan pada dasarnya ditandai dengan munculnya perasaan cemas yang berlebih dan terus-menerus. Pada anak, gejala kecemasan bisa cukup sulit untuk dikenali. Namun semakin cepat masalah ini ditemukan, semakin dini pula terapi bisa diberikan kepada anak.

Baca Juga

"Semakin dini kita bisa membimbing anak ke jalan yang dapat mendorong mereka untuk menjadi tangguh dan membantu mereka menghadapi hal-hal yang mereka takuti," ujar profesor di bidang kesehatan anak dan remaja dari University of North Carolina, dr Rebecca Baum, seperti dilansir CNN, Selasa (17/5/2022).

Tanda gangguan kecemasan pada anak secara umum bisa dibagi menjadi dua yakni gejala gangguan kecemasan secara umum dan gejala gangguan kecemasan sosial. Berikut ini adalah tanda yang patut diwaspadai pada masing-masing jenis gangguan kecemasan tersebut:

1. Gangguan kecemasan umum

Beberapa tanda yang kerap muncul pada anak dengan gangguan kecemasan umum adalah kesulitan berkonsentrasi, kesulitan tidur, mengompol, bermimpi buruk, dan tidak makan dengan benar. Anak juga dapat menunjukkan tanda seperti ada kecenderungan terlalu menempel, kurang percaya diri untuk mencoba hal baru atau saat menghadapi masalah sederhana sehari-hari, menghindari aktivitas sehari-hari seperti pergi ke sekolah, dan ketidakmampuan untuk bicara pada beberapa situasi sosial.

Anak dengan gangguan kecemasan juga kerap mencari dan menyanyakan kepastian akan sesuatu secara berulang-ulang. Beberapa gejala fisik seperti sering ke toilet, menangis, sakit kepala, pening, rasa seperti akan pingsan, berkeringat, sakit perut, mual, kram, muntah, gelisah, atau tidak enak badan juga bisa terjadi.

Terkadang, anak dengan gangguan kecemasan dapat menunjukkan perilaku tantrum, mudah marah, atau gemar membantah. Akan tetapi, perilaku-perilaku tersebut sering kali disalahartikan sebagai masalah perilaku yang tidak sopan.

Perilaku seperti menolak mengerjakan pekerjaan rumah juga tak boleh disepelekan. Perilaku ini bisa jadi dipicu oleh gangguan kecemasan yang membuat anak merasa khawatir bila membuat kesalahan.

"Anak tidak memiliki sarana untuk mengatakan 'Ini yang sebenarnya membuat saya kesulitan', jadi mereka berperilaku buruk," ujar psikolog klinis dan konsultan kognitif dan perilaku yang memiliki spesialisasi di gangguan kecemasan, Rachel Busman.

2. Gangguan kecemasan sosial

Sebagian gejala gangguan kecemasan sosial memiliki kemiripan dengan gejala gangguan kecemasan umum. Akan tetapi, gejala-gejala ini biasanya muncul pada situasi atau keadaan sosial.

Beberapa tanda dari gangguan kecemasan sosial adalah menolak atau menghindari pergi ke sekolah, menolak bicara dalam lingkup sosial atau bicara dengan nada yang lembut atau pelan, memiliki kemampuan sosial yang buruk seperti takut membuat kontak mata, dan memiliki ketakutan atau kesulitan ketika menggunakan toilet umum, bicara lewat telepon, melakukan sesuatu di muka publik, makan di depan orang lain, diminta maju ke depan kelas, atau ketika terpisah dengan orang tua.

Kecemasan sosial juga dapat memunculkan tanda atau gejala secara fisik. Sebagian di antarnaya adalah gemetar, kesulitan mengatur napas, merasa pikiran kosong, otot menegang, serta jantung berdetak cepat.

Lakukan percakapan dari hati ke hati

Mengetahui apa yang memicu gangguan kecemasan pada anak memang penting. Namun, hal ini perlu dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang, tanpa mengajukan pertanyaan secara keras yang mungkin membuat anak bersikap defensif hingga tidak mau bicara kepada orang tua.

Menurut Busman, percakapan seperti ini bisa dibuka dengan pertanyaan seperti "Saya melihat kamu tampak enggan untuk melakukan aktivitas itu. Ada apa?". Orang tua sebaiknya tak memulai pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan yang bernada memojokkan anak seperti "Apakah kamu takut melakukan itu? Atau apakah kamu tidak suka orang-orang itu?"

Orang tua juga bisa bertanya mengenai hal yang disukai atau tidak, atau hal yang dirasa sulit oleh anak setelah menghadiri suatu kegiatan atau acara. Bila anak sudah mengungkapkan secara jujur apa yang membuat mereka merasa cemas, jangan mengerdilkan atau menyepelekan hal tersebut. Hindari respons seperti "Tak ada yang perlu ditakutkan mengenai itu" atau "Jangan cengeng".

Respons yang lebih baik untuk diberikan adalah "Itu terdengar berat" atau semacamnya. Setelah itu diikuti dengan pernyataan yang menyoroti kemampuan anak dalam menghadapi tantangan atau membantu aak untuk mencari jalan keluar bersama.

"Mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan adalah hal yang lumrah itu sangat penting. Anak Anda mungkin terkadang mengalami kegagalan, dan disukai oleh semua orang bukanlah hal yang realistis," kata Baum.

Jenis terapi terbaik untuk gangguan kecemasan adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini biasanya melibatkan beberapa tingkat terapi pemaparan. Terapi seperti ini dapat membantu anak merasa lebih nyaman untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya mereka takuti. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA