Friday, 9 Zulhijjah 1443 / 08 July 2022

UAS Tanggapi Tuduhan Pemerintah Singapura

Rabu 18 May 2022 11:27 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ustaz Abdul Somad

Ustaz Abdul Somad

Foto: (dok @ustadzabdulsomad_official)
UAS mempertanyakan darimana informasi yang diperoleh Pemerintah Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustaz Abdul Somad (UAS) menanggapi pernyataan Pemerintah Singapura melalui laman resmi Kementerian Dalam Negeri (MHA) yang disiarkan Selasa (17/5/2022) lalu.

Menurut mubaligh nasional tersebut, pelbagai tuduhan yang disebutkan dalam rilis pers MHA Singapura cenderung mengungkit-ungkit persoalan lama.

Baca Juga

Alumnus Universitas al-Azhar Mesir itu mengatakan, masalah-masalah seperti fatwa bom syahid, “jin kafir”, atau sebutan “kafir” untuk non-Muslim sudah selesai. Menurut dia, penjelasan atau klarifikasi dari dirinya mengenai hal itu sudah disampaikan dalam pelbagai video yang dapat diakses via internet.

“Semua soal itu sudah tuntas. Mereka tinggal tulis (cari) di Google, ‘Klarifikasi UAS tentang bom bunuh diri Palestina, jin dalam berhala, non-Muslim disebut kafir.’ Semoga mereka mendapat hidayah,” ujar UAS saat dihubungi Republika, Rabu (18/5/2022).

Baca juga: Kronologi Lengkap UAS Ditolak Masuk ke Singapura

Alumnus Darul Hadis Maroko itu mengaku heran dengan sikap reaktif Pemerintah Singapura. Di Tanah Air, UAS tercatat telah menghadiri atau diundang untuk berceramah di banyak kesempatan, termasuk yang diadakan sejumlah instansi pemerintah pusat maupun daerah. Karena itu, tuduhan bahwa dirinya menyebarkan paham ekstremis dan segregasi tidak beralasan.

“Serajin apa PNS Kemenlu Singapura sempat menonton tausiyah UAS? Maka siapa yang memanas-manasi?” tanya UAS retoris.

Sebelumnya, UAS pernah mengalami kendala saat memasuki beberapa negara. Misalnya, saat hendak menyambangi Timor Leste. Dai itu mengenang, waktu itu dirinya sempat tertahan di bandara satu jam lamanya. Sebab, menurut informasi yang diterimanya, ada pihak tertentu yang mengirimkan faksimile dari Jakarta. Isinya menuding UAS sebagai “teroris.”

Ia mengaku pernah “diusir” dari Swiss sesudah masuk faksimile dari Jakarta. Isinya memuat gambar UAS berceramah di Amsterdam, Belanda, dan “diusir.”

“Siapa mengirim fax dari Jakarta? Sejarah akan membuktikan ‘sampah-sampah sejarah,’” tutupnya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA