Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Tingkat Kematian Jamaah Haji Harus Diturunkan

Selasa 17 May 2022 16:50 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana

Foto: Istimewa
Kardiovaskuler jadi penyebab utama kematian jamaah haji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tingkat kematian jamaah haji Indonesia dinilai masih tinggi. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Budi Sylvana menjelaskan, selama sepuluh tahun terakhir tingkat kematian jamaah cenderung flat pada angka 2 per 1000 (mil).

“Artinya, ini angka yang cukup tinggi. Apakah ini angka sesungguhnya?” ujar Budi saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Bimbingan Teknis Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji, Jakarta, Selasa (17/5). 

Menurut Budi, ada beberapa faktor yang menyebabkan jamaah meninggal dunia di Tanah Suci. Ada di peringkat pertama, ujar dia, yakni kardiovaskuler. yakni terkait dengan jantung dan pembuluh darah. Kedua adalah respitarory desease alias penyakit pernafasan. Faktor lain yang juga menyebabkan kematian jamaah adalah faktor kelelahan.  Karena itu, ujar dia, petugas kesehatan harus mengetahui jamaah dengan komorbid alias penyakit bawaan.  Dia meminta agar petugas haji mengedukasi para jamaah untuk menyesuaikan ibadah mereka dengan kemampuan fisik masing-masing. 

Budi pun membandingkan tingkat kematian jamaah haji Indonesia dengan negara lain. Contohnya, ujar dia, pada musim haji 2019, India yang memiliki jamaah haji cukup banyak punya angka kematian 1 per 1000 (mil).  Tingkat kematian jamaah Indonesia pun masih kalah rendah ketimbang Malaysia yang memiliki angka hanya 0,3 per 1000 (mil). 

 

photo
Tingkat Kematian Jamaah Haji 2019 - (Rep/A Syalaby Ichsan)
 

Budi menegaskan, tingkat kematian tersebut harus bisa diturunkan pada tahun ini. “Jamaah haji berangkat sehat maka pulang juga harus sehat,”tegas dia.

Selain itu, Budi menyampaikan,  masih banyak jamaah yang belum mendapatkan vaksin dosis lengkap. Dari data terbaru yang dimiliki Puskes Haji, tingkat persentase jamaah yang sudah mendapatkan vaksin lengkap baru 76 persen. Padahal, ujar dia, Arab Saudi mensyaratkan agar semua jamaah haji harus sudah divaksin dosis lengkap untuk masuk ke Arab Saudi. 

“Jika tidak dosis lengkap maka terancam tidak berangkat. Kita punya tugas agar mereka mau vaksinasi lengkap sesuai dengan aturan Saudi,”ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA