Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Ulama Vs Korporasi Bisnis 2024, Mungkinkah?

Selasa 17 May 2022 16:20 WIB

Red: Agus Yulianto

Research Director of IndoNarator, Harsam.

Research Director of IndoNarator, Harsam.

Foto: Istimewa
Kekuatan material maupun sosial merupakan basis kekuatan penentu suksesi Pemilu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - - Pemilu 2024 akan dihiasi pertarungan berbagai kekuatan kelompok dominan. Dua di antaranya yang diprediksi bakal adu kuat tak lain kelompok ulama versus korporasi bisnis. Bagaimana menjelaskan hal ini? 

Tak dipungkiri lagi bahwa kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pemilu 2019 adalah berkat dukungan para ulama. Ini dapat dibuktikan melalui sejumlah bukti yang tidak terbantahkan.

"Kita tentu masih ingat bagaimana para kiai dan ulama se-Jakarta Pusat yang dengan suara bulat mendeklarasikan diri mendukung pasangan Cawapres Jokowi-ma’ruf pada Rabu, 7 November 2018 bertempat di kediaman Ma’ruf Amin, Menteng Jakarta," kata Research Director of IndoNarator, Harsam dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Selasa (17/5/2022).

Dukungan yang sama datang dari ulama-ulama dari Jakarta Barat. Kemudian, gelombang dukungan ulama juga datang dari Jawa Barat, meskipun wilayah Jabar sendiri sejatinya merupakan kantong suara pasangan Prabowo-Sandi.

Terkait dukungan ulama dari Jabar ini, kata Harsam, bahkan diakui Jokowi sendiri saat berorasi di Pusbandai, Cikembar, Sukabumi pada 12 April 2019. Ia menyebut, perolehan suara di Jabar berkat peran ulama, kiai, khabib dan tokoh agama.  

Tidak hanya itu, dua provinsi yang jadi lumbung suara Jokowi-Ma’ruf, Jawa Tengah dan Jawa Timur juga berkat peran dan dukungan ulama. Ini dibuktikan berdasarkan riset yang dilakukan Sihidi, Roziqin, & Suhermanto dalam Pertarungan Populisme Islam dalam Pemilihan Presiden 2019 (2020).

"Berdasarkan temuan mereka, bahwa kemenangan Jokowi-Ma’ruf di di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena menguatnya dukungan Nahdatul Ulama (NU) dan kaum nasionalis," ujar dia. 

Hanya saja, mayoritas ulama pendukung Jokowi-Ma’ruf di kedua wilayah itu tergolong ulama garis moderat. Ini bertolak belakang dengan ulama pendukung Prabowo-Sandi yang mayoritas merupakan kelompok islam puritan (garis kental). Berbeda dengan Joowi-Ma’ruf, basis suara Prabowo-Sandi justru Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat dan Banten. Daerah-daerah yang disebutkan terakhir itu, berdasarkan kategorisasi Sihidi, Roziqin, & Suhermanto (2020) tergolong dalam kelompok islam puritan.

Dikatakan Harsam, fakta menarik lainnya yang perlu dicermati ialah peran penting korporasi bisnis atau para konglomerat di balik suksesi Pemilu, termasuk Pemilu 2019 silam. Sebagai gambaran, kata dia, kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 tidak terlepas dari dukungan para konglomerat, mulai dari Erick Thohir, Hary Tanoesoedibjo, Surya Dharma Paloh  dan lainnya.

Dukungan serupa juga terjadi pada pasangan Prabowo-Sandi. Sosok Hashim Djojohadikusumo, Sandiaga Uno, Tommy Soeharto adalah deretan konglomerat yang ikut menyokong cost politik Prabowo-Sandi.

"Kedua fakta empirik di atas menarik untuk dicermati pada Pemilu 2024 mendatang. Namun, pencermatan kali ini bukan difokuskan pada pengerahan dukungan politik, melainkan pada potensi pertarungan terbuka di antara kedua entitas sosial," ujarnya. Lantas, seperti apa pertarungan dimaksud dan apa yang melatarinya?

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA