Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Rashida Tlaib Usulkan Resolusi Pengakuan Hari Nakba Palestina

Selasa 17 May 2022 14:16 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Warga Palestina memadati jalan di Jalur Gaza untuk memperingati Hari Nakba yang ke-74 tahun.

Warga Palestina memadati jalan di Jalur Gaza untuk memperingati Hari Nakba yang ke-74 tahun.

Foto: AP Photo/Adel Hana
Resolusi Rashida Tlaib untuk akui Hari Nakba dinilai sebagai momen bersejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Rashida Tlaib mengusulkan resolusi untuk mengakui Hari Nakba Palestina. Tlaib mengatakan memperkenalkan resolusi tersebut di House of Representative AS pada Senin (16/5/2022), sehari setelah Palestina memperingati Hari Nakba

"Nakba didokumentasikan dengan baik dan terus diperingati hingga hari ini. Kita harus mengakui bahwa kemanusiaan Palestina diabaikan, ketika orang-orang menolak untuk mengakui kejahatan perang, pelanggaran hak asasi manusia, dan apartheid oleh Israel," ujar Tlaib yang merupakan keturunan Palestina, dilansir Aljazirah, Selasa (17/5/2022).

Tlaib yang merupakan anggota kongres Demokrat mengatakan, resolusi itu disponsori bersama rekan-rekannya yaitu Betty McCollum, Marie Newman, Ilhan Omar, dan Alexandria Ocasio-Cortez. Meskipun tidak mungkin lolos di House of Representative yang sangat pro-Israel, para pembela hak-hak Palestina memuji tindakan Tlaib dan menyebutnya sebagai "langkah bersejarah".

Pada Senin, sebuah kelompok advokasi untuk Palestina menyebut resolusi Tlaib sebagai “momen bersejarah”. Kelompok itu mengatakan, sudah terlalu lama Washington mengabaikan nasib warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.

“Sudah terlalu lama, warga Palestina diabaikan oleh Washington, dan orang-orang Palestina telah ditembak mati karena mencoba menceritakan kisah mereka.  Terima kasih (Tlaib) karena telah menyuarakan kenyataan ini, dan menyoroti rasa sakit dan ketidakadilan yang diderita warga Palestina,” ujar pernyataan kelompok itu.

"Kita harus mengalihkan kebijakan luar negeri AS dari memungkinkan pemindahan warga Palestina yang sedang berlangsung oleh Israel dengan dana militr, menuju akuntabilitas,” kata kelompok advokasi itu menambahkan.

Institute for Middle East Understanding (IMEU), sebuah wadah think tank yang mendukung hak-hak Palestina, berterima kasih kepada Tlaib karena memberikan suara dan menyoroti ketidakadilan yang diderita warga Palestina.

“Selama pembentukan negara Israel, hampir 75 persen dari populasi Palestina secara etnis telah dibersihkan dari Palestina dan lebih dari 400 desa Palestina dihancurkan. Tindakan ini sengaja direncanakan dan dilakukan oleh milisi Zionis untuk mencuri tanah Palestina," ujar pernyataan IMEU.

Jutaan orang yang selamat dari peristiwa Nakba dan keturunan mereka tinggal di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat dan Gaza, serta di negara-negara Arab lainnya. Hari Nakba jarang dibahas dalam politik arus utama AS, karena Israel telah menikmati dukungan luas dari legislator dan presiden berturut-turut dari kedua partai besar selama beberapa dekade.

Setiap tahun Israel menerima bantuan militer dari AS sebesar 3,8 miliar dolar AS. Tahun ini Washington menambah anggaran bantuan militer untuk Israel sebesar 1 miliar dolar AS. Anggaran tambahan itu digunakan untuk “mengisi ulang” sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel setelah konflik di Gaza pada Mei 2021.

Pada akhir 2016, tepatnya di hari-hari terakhir kepresidenan Barack Obama, Menteri Luar Negeri John Kerry saat itu mengakui peringatan Hari Nakba dalam sambutannya tentang konflik Israel-Palestina. “Ketika Israel merayakan ulang tahun ke-70 pada 2018, orang-orang Palestina akan menandai peringatan yang sangat berbeda: 70 tahun sejak apa yang mereka sebut ‘Nakba’ atau malapetaka,” katanya saat itu.

Warga Palestina di seluruh dunia memperingati Hari Nakba pada Ahad (15/5) dengan aksi unjuk rasa, untuj menekankan kembali hak-hak para pengungsi Palestina.  Mereka juga menuntut keadilan bagi jurnalis veteran Aljazirah, Shireen Abu Akleh, yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat pekan lalu.

Pada 15 Mei 1948, Israel didirikan sebagai negara mayoritas Yahudi dengan mengorbankan pengusiran paksa sekitar 750 ribu warga Palestina. Hari itu kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Nakba.

Apa arti Nakba?

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA