Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Dapatkah Hepatitis Akut Menular ke Orang Dewasa?

Senin 16 May 2022 16:54 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Indira Rezkisari

Dokter Puskesmas Kecamatan Lohbener mensosialisasikan tentang penyakit hepatitis akut di Desa Pamayahan, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (14/5/2022). Kegiatan sosialisasi tersebut dalam rangka mitigasi penularan penyakit hepatitis akut.

Dokter Puskesmas Kecamatan Lohbener mensosialisasikan tentang penyakit hepatitis akut di Desa Pamayahan, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (14/5/2022). Kegiatan sosialisasi tersebut dalam rangka mitigasi penularan penyakit hepatitis akut.

Foto: ANTARA/Dedhez Anggara
Sejauh ini penderita hepatitis akut usianya di bawah 16 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) masih terus memantau perkembangan hepatitis akut misterius. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apakah hepatitis misterius ini juga bisa menyerang orang dewasa.

"Kalau sampai sekarang ya kita lihat bahwa yang tersiar saat ini adalah pada usia kurang dari 16 tahun. Itu sebagian besar 90 persen pada usia 1 bulan sampai 16 tahun. Apakah nanti orang dewasa tertular atau tidak, tentu kita belum ada jawaban pasti ya, karena penyakit ini baru dan tentunya banyak sekali yang harus kita pelajari," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi, dalam keterangannya dikutip Senin (16/5/2022).

Baca Juga

Total ada 18 kasus diduga hepatitis akut misterius di Indonesia. Tujuh di antaranya meninggal dunia, termasuk satu kasus probable hepatitis akut di Jakarta Barat.

Menurut Nadia, alternatif pencegahan saat ini adalah dengan terus menerapkan protokol kesehatan. WHO sendiri mengkategorikan probable hepatitis akut berat lantaran belum diketahui penyebabnya. "Ada dugaan hepatitis virus atau ada virus yang bermutasi seperti itu," tuturnya.

Selama ini kemungkinan besar penyakit hepatitis menular melalui makanan. Oleh karenanya, upaya pencegahannya tetap menjalankan protokol kesehatan agar tidak tertular.

"Cuci tangan kemudian menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, minum air yang sudah matang. Juga tetap melakukan pengolahan makanan dengan bersih," kata Nadia.

Nadia menambahkan, untuk mencegah penularan selama pembelajaran tatap muka yang harus dibuka, sekolah harus memastikan kantin di sekolah itu dikelola dengan bersih. Harus dipastikan pula penjual di kantin sekolah menggunakan sarung tangan saat menjual makanan.

"Dan dipastikan makanan yaitu adalah makanan yang memang misalnya dibuat dengan air bersih," tegas Nadia.

Hingga kini, sambung Nadia, belum semua daerah di Indonesia menemukan kasus hepatitis akut dengan gejala berat. Namun, dari sisi surveilans di beberapa daerah telah mengalami peningkatan sehingga semua pihak diharapkan lebih waspada apabila ada anggota keluarga yang terkena sakit kuning yang menjadi penyebab penyakit hepatitis.

"Segera lapor ke fasilitas pelayanan kesehatan, kemudian kita perlu lihat juga di beberapa daerah itu apakah terjadi peningkatan pelaporan terkait dengan sindrom kuning atau demam kuning tadi," tegas Nadia.

Baca juga : Dinkes Bogor Imbau Masyarakat Waspada 4 Gejala Awal Hepatitis Akut

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA