Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Utusan PBB untuk Pemuda Gandeng Perusahaan Ini, Kolaborasi Demi Peran Besar Generasi Muda

Senin 16 May 2022 03:21 WIB

Red: Gita Amanda

Berdasarkan survei, hampir setengah dari populasi dunia berusia di bawah 30 tahun. Namun hanya 2,6 persen saja dari mereka yang duduk di parlemen di seluruh dunia. (ilustrasi).

Berdasarkan survei, hampir setengah dari populasi dunia berusia di bawah 30 tahun. Namun hanya 2,6 persen saja dari mereka yang duduk di parlemen di seluruh dunia. (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Kaum muda mempunyai hak untuk dilibatkan dalam keputusan-keputusan politik penting

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Jutaan kaum muda saat ini hilang dari sektor publik akibat krisis iklim, konflik global dan ketidaksetaraan generasi yang kian tajam. Untuk itu pendapat, perspektif dan representasi dari kaum muda di saat sekarang sangat dibutuhkan.

Berdasarkan survei, hampir setengah dari populasi dunia berusia di bawah 30 tahun. Namun hanya 2,6 persen saja dari mereka yang duduk di parlemen di seluruh dunia.

Usia rata-rata pemimpin dunia sekarang adalah 62 tahun. Dari semua parlemen di dunia, 37 persen sama sekali tidak memiliki satupun Anggota Parlemen di bawah usia 30 tahun dan kurang dari satu persen Anggota Parlemen muda ini adalah perempuan.  

Kaum muda mempunyai hak untuk dilibatkan dalam keputusan-keputusan politik yang mempunyai pengaruh kepada mereka. Namun, banyak sekali rintangan yang menghalangi mereka untuk berpartisipasi.

The Body Shop dan Kantor Utusan Pemuda Sekretaris Jenderal PBB berkolaborasi untuk mengubah hal ini melalui kampanye global Be Seen Be Heard. Tujuan kampanye ini, agar suara kaum muda lebih teramplifikasi di sektor publik.

Kampanye ini bertujuan untuk menciptakan perubahan struktural jangka panjang dalam hal pengambilan keputusan agar lebih inklusif terhadap kaum muda. Kampanye ini diluncurkan Ahad (15/5/2022), bersamaan dengan penerbitan laporan bersama ‘Be Seen Be Heard: Memahami Partisipasi Politik Anak Muda’.

Laporan ini merupakan potret bahwa saat ini merupakan momen yang sangat kritikal untuk memahami prasangka dan rintangan struktural yang menghalangi kaum muda untuk berpartisipasi di sektor publik, sekaligus dengan rekomendasi untuk menyampaikan tantangan-tantangan yang dihadapi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat di seluruh dunia. Laporan ini memaparkan hasil survei terbesar yang dilakukan oleh The Body Shop pada Desember 2021, dengan cakupan 26 negara dan 27.043 total responden, dimana lebih dari setengahnya berusia di bawah 30 tahun.

Riset ini menemukan bahwa 82 persen orang yang disurvei setuju bahwa sistem politik membutuhkan reformasi yang drastis agar sesuai untuk kebutuhan masa depan. Sebanyak 84 persen orang juga mengatakan bahwa para politikus hanya mementingakan diri sendiri, dan 75 persen dari responden juga beranggapan bahwa para politikus ini melakukan korupsi. Tiga perempat orang di bawah usia 30 tahun merasa bahwa politikus dan para pemimpin bisnis telah melakukan kekacauan bagi manusia dan planet ini.

Sepertiga dari orang di bawah usia 30 tahun yang disurvei setuju bahwa lebih banyak kesempatan untuk kaum muda bersuara dalam pengembangan kebijakan dan/atau perubahan dapat membuat sistem politik menjadi lebih baik.

CEO The Body Shop David Boynton, mengatakan posisi mereka jelas. Masalah-masalah yang ada di dunia tidak bisa diselesaikan oleh orang yang sama dan kerap membuat keputusan yang sama pula.

"Riset kami menunjukkan bahwa mayoritas kaum muda positif terhadap masa depan, dan kita perlu untuk mendengarkan pendapat serta ide-ide mereka dalam kancah politik. Kami akan menggunakan jaringan global kami untuk terus memberikan dukungan serta kesadaran, seperti yang telah kami lakukan selama ini," ujarnya seperti dalam siaran pers.

Be Seen Be Heard bermula dari keinginan untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi kaum muda. Bersama dengan Kantor Utusan Pemuda Sekretaris Jenderal PBB, TheBody Shop bertujuan untuk mengemban misi tersebut.

Utusan Sekretaris Jenderal PBB untuk Pemuda Jayathma Wickramanayake, mengatakan kesenjangan kekuasaan, pengaruh, dan kepercayaan antargenerasi menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini. Kaum muda telah secara jelas melakukan berbagai macam kegiatan aktivisme di jalan-jalan, dalam sektor kemasyarakatan, dan juga di platform media sosial, yang semakin membuktikan bahwa mereka sangat peduli terhadap perubahan yang transformatif untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara, adil, dan berkelanjutan.

Partisipasi adalah hak, dan kurangnya keterwakilan kaum muda di lembaga pengambil keputusan menyebabkan rasa ketidakpercayaan yang semakin dalam pada institusi-institusi politik, selain rasa keterasingan dari wakil rakyat yang terpilih. Ini semua disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang tidak mencerminkan prioritas kepada kaum muda, tidak menyalurkan kekhawatiran-kekahawatiran mereka, ataupun berbicara bahasa yang sama dengan mereka.

"Kampanye ini adalah kesempatan untuk mengubah hal-hal tersebut,” ungkapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA