Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Dispangtan Klaim Belum Temukan Kasus PMK Hewan Ternak di Bandung

Ahad 15 May 2022 19:15 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda

Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Ciamis memeriksa kesehatan hewan sapi di UPTD Perbibitan, Desa Cigembor, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (13/5/2022). Pemeriksaan tersebut untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Ciamis memeriksa kesehatan hewan sapi di UPTD Perbibitan, Desa Cigembor, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (13/5/2022). Pemeriksaan tersebut untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Terdapat satu kasus suspect PMK pada sapi dan kini sampel darahnya sedang diperiksa

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung mengklaim belum menemukan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Namun terdapat satu kasus suspect PMK pada sapi dan kini sampel darah telah diambil dan tengah diperiksa di Balai Veteriner di Subang.

Kepala Dispangtan Kota Bandung Gingin Ginanjar mengatakan petugas mulai melakukan pengawasan sejak 9 Mei saat kasus PMK merebak. Sebanyak 295 peternak atau penjual hewan ternak di 30 kecamatan telah didatangi dan diperiksa termasuk di rumah potong hewan (RPH).

Baca Juga

"Sampai tanggal 13 Mei kita sudah lakukan pemeriksaan, dasarnya itu kita pemeriksaan ke lapangan atau berdasarkan laporan, kita juga membuka posko di kantor, posko pengaduan. Dari pemeriksaan ada 32 tempat kita lakukan pemeriksaan sampai 13 Mei kemarin ada 1.745 ekor yang diperiksa 867 ekor sapi, 885 domba," ujarnya saat dihubungi, Ahad (15/5/2022).

Ia menuturkan terdapat 13 ekor hewan ternak yang mengalami sakit ringan seperti mengalami luka. Namun secara umum 1.745 ekor hewan ternak yang diperiksa tidak menunjukkan gejala PMK.

"Jadi secara umum 1.745 yang diperiksa tidak menunjukkan gejala PMK," katanya. Namun pada Jumat (13/5/2022) kemarin terdapat satu ekor sapi yang diduga mengalami sakit menyerupai PMK seperti air liur berlebih.

"Hanya kemarin hari Jumat kita ada satu tapi belum untuk disampaikan ada satu ekor sapi diduga jadi suspect karena salah satu cirinya air liur berlebih kemudian ada cenang (bisul kecil) di sekitar bibir ditemukan satu ekor sapi di kecamatan Babakan Ciparay," ungkapnya.

Ia mengatakan pihaknya telah mengambil sampel darah dari sapi tersebut dan diserahkan ke Balai Veteriner di Subang yang direkomendasikan Kementerian Pertanian (Kementan). Hasil pemeriksaan sendiri baru dapat diperoleh Selasa (17/5/2022) mendatang.

"Itu baru satu ekor dari 1.745 hanya satu yang bergejala atau diduga suspect lainnya sehat dan belum ada pengaduan termasuk kondisi di pasar dan rumah potong hewan tidak mempengaruhi masih dalam posisi normal," katanya.

Aktivitas pemotongan hewan di RPH masih normal dengan rata-rata pemotongan 40 kali per hari di masa pandemi Covid-19. Selain itu pihaknya mendapatkan informasi belum terdapat penurunan pembelian daging oleh konsumen

"Ada dua RPH milik pemerintah di Ciroyom dan Cirangrang kondisi normal 60 ekor sapi? dua tahun sekitar 40 sekarang angka 40 masih bertahan belum ada penurunan signifikan," katanya.

Pihaknya juga sudah mengumpulkan para  pengusaha hewan ternak untuk memastikan tidak terdapat hewan ternak yang masuk ke Kota Bandung. Para pengusaha sudah memiliki stok hewan ternak sejak Februari lalu.

Ia mengatakan penyebaran PMK relatif cepat bahkan apabila satu ekor hewan ternak di satu populasi terpapar maka yang lain dapat ikut terjangkit.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA