Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Sependapat dengan Guardiola, Tuchel: Di Inggris, Liverpool Dapat Simpati Lebih Besar

Sabtu 14 May 2022 08:53 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel. Tuchel mengakui sulit untuk tidak sependapat dengan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, soal bias dukungan terhadap Liverpool di Inggris.

Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel. Tuchel mengakui sulit untuk tidak sependapat dengan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, soal bias dukungan terhadap Liverpool di Inggris.

Foto: AP/Jon Super
Klopp selalu mampu menempatkan diri dan timnya dalam posisi tak diunggulkan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel, mengakui, sulit untuk tidak sependapat dengan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, soal bias dukungan terhadap Liverpool di Inggris. Menurut pelatih asal Jerman itu, ketimbang tim-tim lain, termasuk Chelsea, Liverpool mendapatkan dukungan dan simpati lebih banyak dari publik Inggris.

Sebelumnya, Guardiola sempat menilai, publik Inggris termasuk media massa cenderung lebih mendukungan Liverpool ketimbang Man City dalam perebutan gelar juara Liga Primer Inggris. Kondisi ini tidak terlepas dari buruknya catatan raihan trofi the Reds di Liga Primer Inggris.

Baca Juga

Dengan napas yang nyaris sama, Tuchel juga mengungkapkan penilaian serupa. Eks pelatih Paris Saint-Germain (PSG) itu menilai, publik Inggris memberikan simpati lebih banyak kepada Liverpool, ketimbang tim-tim besar lain di Inggris.

''Sulit untuk tidak sependapat dengan Guardiola. Meski tidak sependapat 100 persen, saya bisa memahami penilaiannya. Ada simpati yang begitu besar terhadap publik Inggris terhadap Liverpool. Saya juga merasakan hal itu,'' ujar Tuchel seperti dikutip the Guardian, Sabtu (14/5/2022).

Simpati itu, kata Tuchel, tidak terlepas dari pembawaan dan karakter yang dimiliki oleh pelatih Liverpool, Juergen Klopp. Tuchel menilai, Klopp selalu mampu menempatkan dirinya dan tim yang dibesutnya dalam posisi tidak diunggulkan.

Bahkan, saat menghadapi Villarreal dan Benfica di pentas Liga Champions, Klopp bisa menempatkan Liverpool sebagai tim underdog.

''Dari situlah simpati itu datang. Saat mereka bahkan bisa meraih hasil imbang, torehan itu akan dianggap sebagai sebuah keajaiban. Namun, kami tidak iri atas kondisi tersebut. Klopp merupakan salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini dan itu yang bisa dilakukan,'' kata pelatih berusia 48 tahun tersebut.

Kondisi ini pula yang terjadi jelang gelaran final Piala FA, Sabtu (14/5) malam WIB. Tuchel menilai, dibanding Liverpool, the Blues mendapatkan simpati dan dukungan yang lebih sedikit dari publik Inggris. Kendati begitu, kondisi itu tidak merisaukan Tuchel untuk bisa membungkam Liverpool dalam laga di Stadion Wembley tersebut dan merai titel Piala FA musim ini.

''Kondisi ini dapat menjadi tantangan tersendiri setiap menghadapi tim yang ditangani Klopp. Apabila kami menjadi ''orang jahat'' di laga final Piala FA, maka tidak masalah buat kami. Kami akan mengambil peran itu. Kami tidak membutuhkan simpati dari publik Inggris di laga nanti, kami hanya menginginkan raihan trofi,'' tegas Tuchel.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA