Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Habib Husein: Silaturahim Urai Intoleransi

Sabtu 14 May 2022 06:24 WIB

Red: Ani Nursalikah

Warga bersalaman saat mengikuti acara silaturahim lintas agama dalam perayaan Idul Fitri 1443 Hijriah di Dusun Tekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/5/2022). Tradisi silaturahim, bersalaman saling memaafkan itu diikuti umat Kristen, Katolik, dan Budha dengan umat Islam yang tengah merayakan Idul Fitri 1443 Hijriah sebagai wujud kerukunan antarumat beragama serta kesatuan dan persatuan masyarakat setempat. Habib Husein: Silaturahim Urai Intoleransi

Warga bersalaman saat mengikuti acara silaturahim lintas agama dalam perayaan Idul Fitri 1443 Hijriah di Dusun Tekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/5/2022). Tradisi silaturahim, bersalaman saling memaafkan itu diikuti umat Kristen, Katolik, dan Budha dengan umat Islam yang tengah merayakan Idul Fitri 1443 Hijriah sebagai wujud kerukunan antarumat beragama serta kesatuan dan persatuan masyarakat setempat. Habib Husein: Silaturahim Urai Intoleransi

Foto: ANTARA/Aji Styawan
Silaturahim menjadi jembatan untuk saling mengenal terhadap hal yang berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dai milenial Habib Husein Ja'far Al Hadar mengatakan budaya silaturahim pada Lebaran menjadi jembatan untuk saling mengenal terhadap hal yang berbeda. Silaturahim sekaligus bisa mengurai kebencian dan mengebalkan imunitas dari paham intoleransi serta radikalisme.

"Silaturahim itu di dalamnya bukan hanya ada pemaafan dan pemberian maaf, melainkan ada kesepahaman, kesalingkenalan satu sama lain. Karena kenal itu, masalah menjadi terurai dan kalaupun ada masalah menjadi termaafkan," ujar Habib Husein dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga

Pria yang juga pemilik kanal YouTube "Jeda Nulis" ini mengatakan membangun silaturahim juga sejatinya mampu mengurangi perbedaan di antara individu. Ia memandang perlu melestarikan budaya silaturahim yang berkembang di Nusantara untuk menjaga kearifan lokal dan menjadi momen lebih memahami esensi ajaran agama.

Untuk terus melestarikan dan menjaga silaturahim, menurut dia, yang pertama adalah dengan mengetahui betapa besarnya pahala bagi orang yang menjaga tali silaturahim dan betapa besar dosanya orang yang memutus silaturahim itu. Dalam salah satu sabdanya Nabi Muhammad SAW mengatakan, "Terlaknat orang yang memutus silaturahim."

Bahkan, Nabi Muhammad pun memuji orang-orang yang saling memaafkan sehingga menjadi pahala bagi yang menjaga tali silaturahim dan dosa bagi yang mengutusnya. "Kedua, adalah mengetahui manfaat silaturahim. Terlalu banyak pertengkaran tanpa persoalan karena salah paham saja sehingga bertengkar," katanya.

Habib Husein juga menyinggung terkait dengan enggannya generasi muda untuk ikut menjalin dan membangun silaturahim. Hal ini akibat pola pikir para pemuda yang pragmatis dalam melihat hubungan.

"Kalau tidak ada hubungan bisnis atau tidak ada kepentingan di antara mereka untuk bertemu, ya, enggak bertemu. Itu yang membuat mereka enggan melakukan silaturahim. Justru hubungan-hubungan yang berbasis kultural itu yang menjadi kekuatan bagi mereka, termasuk dalam bisnis," jelasnya.

Ia menilai saat ini justru forum silaturahim seperti forum motor bersama, forum mobil, atau forum hobi bersama bisa menjadi bagian dari silaturahim. Hal tersebut tumbuh dari kesadaran pada kesamaan hobi atau kesamaan fesyen.

Bahkan, nantinya pada dasarnya tanpa kesamaan itu sendiri justru dalam titik perbedaan mereka seharusnya membangun silaturahim agar bisa mengurangi perbedaan di antara mereka. "Perlu membentuk media media komunikasi baik secara online maupun offline untuk menjadi ruang publik yang sehat bagi masyarakat yang akhirnya bisa mengobrol secara terbuka tanpa ada kebencian, tanpa ada prasangka, dan lain sebagainya," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA